BANTEN — Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman memastikan cadangan beras pemerintah di gudang Bulog mencapai 4,6 juta ton per September 2026, naik 18 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 3,9 juta ton. Posisi stok itu disebut cukup untuk menahan tekanan El Nino ekstrem yang menurut BMKG menjadi yang terberat, di tengah krisis pangan dan energi dunia.
Jakarta. Menteri Pertanian yang juga menjabat Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan hal itu di Jakarta, Kamis, saat menjawab pertanyaan awak media soal ketahanan pangan nasional. Ia menegaskan komoditas beras berada dalam kondisi aman meski sejumlah negara mengalami guncangan akibat krisis pangan, energi, dan air.
"Alhamdulillah pangan kita dalam kondisi aman, khususnya beras, di tengah goncangan dunia, krisis pangan, krisis energi, dan krisis air yang terjadi di belahan dunia," kata Amran.
Cadangan Beras Pemerintah Naik 18 Persen
Cadangan beras pemerintah yang tersimpan di gudang Perum Bulog tercatat 4,6 juta ton. Angka itu naik sekitar 18 persen dari posisi September 2025 yang sebesar 3,9 juta ton.
Kenaikan stok menjadi salah satu indikator yang dipakai pemerintah untuk memastikan ketersediaan beras tetap terjaga. Amran menyebut El Nino tahun ini masuk kategori sangat ekstrem dan menurut BMKG menjadi yang terberat.
"Bahkan ada El Nino yang sangat ekstrem, ini terberat menurut BMKG. (Namun) stok beras kita masih aman," ujarnya.
Penyaluran CBP Tembus 2 Juta Ton
Hingga pertengahan September 2026, penyaluran cadangan beras pemerintah sudah melewati 2 juta ton. Realisasi itu tersebar ke sejumlah program intervensi:
- Penjualan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Januari-Februari 221,05 ribu ton
- Realisasi SPHP Maret-September 794 ribu ton
- Bantuan pangan tahap pertama Februari-Maret 662,86 ribu ton
- Bantuan pangan tahap kedua Juli-September 2026 yang masih berjalan 584 ribu ton
- Penyaluran bantuan bencana dan keadaan darurat 13,1 ribu ton serta golongan anggaran 58,9 ribu ton
Lewat program bantuan pangan, setiap penerima manfaat mendapat beras gratis 10 kilogram per bulan. Skema ini menyasar rumah tangga yang paling rentan terhadap gejolak harga.
Inflasi Beras Melandai ke 2,77 Persen
Di sisi harga, data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi beras secara tahunan pada Agustus 2026 berada di 2,77 persen. Angka itu turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,10 persen.
Secara bulanan, inflasi beras Agustus 2026 tercatat 0,42 persen, lebih rendah dari 0,49 persen pada bulan sebelumnya. Bapanas menilai inflasi beras bulanan sepanjang 2026 masih sangat stabil karena belum pernah melampaui 1 persen.
Kombinasi stok tebal dan harga yang relatif terkendali menjadi bantalan pemerintah menghadapi musim kemarau panjang. Meski begitu, tekanan El Nino terhadap sektor pertanian belum sepenuhnya hilang dan tetap menjadi variabel yang dipantau otoritas pangan.
Bagi rumah tangga penerima bantuan, pasokan 10 kilogram per bulan menjadi penopang daya beli di tengah ancaman kekeringan. Sementara bagi pasar, angka inflasi yang melandai memberi ruang lebih longgar bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga hingga akhir tahun.