BANTEN — Trump langsung menyinggung kontroversi soal perlambatan perkembangan AI. Ia menyebut kekhawatiran berlebihan terhadap teknologi ini sebagai hoaks dan konspirasi.
Isi Telepon: Pusat Data Disebut Seperti Minyak
Dalam percakapan itu, Trump menekankan pusat data sebagai aset penting bagi perekonomian AS. Menurutnya, infrastruktur ini punya nilai strategis jangka panjang.
"Saya katakan bahwa semuanya adalah hoaks. Pusat data itu bagus, dan mereka membuat orang kaya, dan mereka membuat negara kaya, dan itu akan seperti minyak 20-25 tahun yang akan datang," kata Trump.
Ia juga membantah anggapan bahwa robot dan AI akan mengambil alih peran manusia. Trump mengakui kehati-hatian tetap diperlukan, tapi menegaskan industri tidak boleh dihentikan.
Trump menyebut negara menerima keuntungan US$20 triliun (setara Rp 330.000 triliun) hanya dalam setahun dari industri ini. Ia menyatakan akan terus mendukung dan tidak akan membiarkan sektor tersebut terhambat.
Respons Jensen Huang
Huang menyetujui pernyataan Trump soal penolakannya terhadap perlambatan perkembangan AI. Ia menyatakan teknologi ini akan menguntungkan bagi siapa saja di AS.
"Kita akan memastikan semua diuntungkan. Semua industri, semua perusahaan, semua negara bagian, dan semua orang," kata Huang.
Sebelum telepon itu masuk, Huang sudah menanggapi perbincangan soal esai CEO Anthropic Dario Amodei dan pernyataan mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon yang menyerukan kekhawatiran terhadap risiko AI. Huang menilai pernyataan tersebut tidak dilandasi kajian ilmiah.
Ia mencontohkan prediksi-prediksi yang ramai diperbincangkan jauh sebelum ini juga tidak terbukti, termasuk prediksi bahwa AI akan menggantikan pekerjaan yang sampai saat ini tidak terjadi.
Trump Tolak Seruan Perlambatan AI
Secara terpisah, Trump menolak seruan para bos teknologi yang ingin memperlambat laju perkembangan AI. Alasannya, teknologi dianggap dapat menghancurkan dunia dan mengancam kehidupan umat manusia.
"Orang-orang yang mengatakan AI bakal menghancurkan dunia dan pusat data itu buruk buat lingkungan sekitar adalah orang yang sama yang dulu menyebut bahwa dunia bakal kiamat karena perubahan iklim," kata Trump di Truth Social, melansir CNN, Senin (14/9).
Wakil Presiden AS JD Vance juga meragukan motivasi di balik sikap para eksekutif teknologi yang gencar meminta pengawasan dari pemerintah.
"Memang ada risiko nyata dari AI, tapi manfaatnya juga ada. Jujur saja, saya agak aneh melihat begitu banyak perusahaan teknologi terdepan justru datang dan memohon ke pemerintah agar mereka diregulasi," kata Vance.
Berseberangan dengan Skeptisisme Publik
Sikap Gedung Putih ini berseberangan dengan pandangan masyarakat umum yang makin skeptis terhadap AI. Kekhawatiran publik menyasar potensi hilangnya lapangan pekerjaan yang bisa direbut AI.
Dampak lingkungan dari banyaknya pusat data untuk menopang kemajuan teknologi akal imitasi juga menjadi sorotan. Posisi Trump dan Vance menempatkan pemerintahan AS di jalur berlawanan dengan arus kehati-hatian yang tumbuh di kalangan publik dan sebagian pelaku industri.