LEBAK — Investasi yang masuk ke Kabupaten Lebak pada triwulan pertama 2026 berhasil menyerap 2.856 tenaga kerja lokal. Angka itu tercatat dari laporan kegiatan penanaman modal yang disetorkan 212 perusahaan, baik PMDN maupun PMA.
Analis Kebijakan Madya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Lebak, Robertus Erwin, menyebut realisasi investasi mencapai Rp580 miliar. Jumlah itu setara 206 persen dari target Rp282 miliar yang ditetapkan pemkab.
Dari total investasi tersebut, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp155 miliar. Disusul sektor gas, listrik, dan air sebesar Rp126 miliar.
Sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menyumbang Rp98 miliar. Sementara itu, sektor hotel dan restoran mencapai Rp55 miliar, serta industri logam dasar dan peralatan senilai Rp29 miliar.
Untuk penanaman modal asing, Singapura tercatat sebagai investor terbesar dengan nilai Rp65 miliar. Disusul Tiongkok Rp30 miliar, Amerika Serikat Rp26 miliar, Korea Selatan Rp7 miliar, serta Malaysia dan Inggris masing-masing Rp5 miliar.
Robertus berharap investasi terus meningkat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan ekstrem di Lebak. “Kami berharap investasi terus meningkat sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penghapusan kemiskinan ekstrem sesuai Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025,” ujarnya di Lebak, Jumat (15/5).
Pemerintah Kabupaten Lebak berkomitmen memperkuat promosi potensi daerah untuk menarik lebih banyak investor. Kabupaten ini dinilai memiliki sumber daya alam besar, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, peternakan, hingga pertambangan.
Pemkab juga telah menyiapkan kawasan industri seluas 10 ribu hektare yang tersebar di 13 kecamatan. Kawasan tersebut terhubung dengan Jalan Tol Rangkasbitung–Serang untuk memudahkan akses logistik.