TANGERANG — Kebakaran di TPA Jatiwaringin yang telah berlangsung sejak awal pekan mulai menunjukkan titik terang. BNPB mengerahkan metode khusus berupa penyuntikan air langsung ke dalam gunungan sampah yang menjadi sumber api.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB Djohan Darmawan menjelaskan, metode inject ini dirancang untuk menjangkau api yang membara di bawah permukaan timbunan sampah. Petugas membuat pipa khusus yang ditanam ke titik-titik api, lalu air disuntikkan langsung ke sumber panas.
"Jadi sistem inject ini nanti, kami sudah sampaikan ke Kalaksa, kepala pemadam kebakaran, untuk dibuat pipa dan dilakukan di titik-titik api yang ada di TPA Jatiwaringin," ujar Djohan di lokasi, Jumat.
Sebanyak 30 personel dari Manggala Agni Kementerian Kehutanan diterjunkan karena dinilai sudah terbiasa dengan teknik pemadaman serupa. "Insyaa Allah dari siang tadi sudah mulai aksi," tambahnya.
Selain injeksi darat, BNPB mengoptimalkan pemadaman dari udara menggunakan dua helikopter jenis MI-8AMT. Setiap helikopter membawa kantung air berkapasitas 4.000 liter untuk menyiram titik api yang sulit dijangkau dari darat.
Di sisi lain, 18 unit armada pemadam kebakaran terus menyisir area yang belum tersentuh water bombing. "Hari ke empat, kita sudah mendatangkan dua unit helikopter water bombing, termasuk juga ada 18 pemadam kebakaran," kata Djohan.
Petugas gabungan dari Damkar, Kemenhut, TNI, dan Polri masih berjibaku memadamkan sisa kebakaran di sisi utara TPA. Pantauan ANTARA pada Jumat sore pukul 16.24 WIB menunjukkan kepulan asap dan titik api di beberapa gunungan sampah masih menyala.
Berdasarkan peninjauan BNPB, sekitar 30 persen dari luasan area kebakaran di TPA Jatiwaringin mulai padam dan terkendali. Untuk mempercepat proses, alat berat jenis excavator dioperasikan guna mengurai timbunan sampah yang telah dibasahi melalui skema penyuntikan air.
Akses jalan menuju kawasan TPA dijaga ketat oleh petugas. Kendaraan yang diizinkan masuk hanya terbatas pada armada pemadam kebakaran, petugas medis, dan instansi terkait yang terlibat dalam penanganan darurat.
Djohan menambahkan, pemadaman dimaksimalkan pada pagi hingga malam hari karena kondisi angin yang tidak terlalu kencang. "Sementara ini kita bisa melihat, ini kalau pagi hari anginnya enggak terlalu kencang. Kawan-kawan petugas ini pun juga bekerjanya dimaksimalkan itu pada saat dari pagi, siang, malam," pungkasnya.