BANTEN — Wacana ini mengemuka di tengah mandeknya penambahan emiten BUMN di Bursa Efek Indonesia (BEI). Terakhir kali, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan saham perdana pada 24 Februari 2023 dan mengantongi dana segar Rp9,06 triliun. Kini, Danantara yang memegang kendali aset BUMN bernilai besar itu berancang-ancang membuka keran IPO lagi, tetapi dengan proses yang jauh lebih ketat.
Empat Tahap Seleksi Sebelum Melantai di Bursa
Deputi Bidang Investasi dan Portofolio Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan tidak semua BUMN bisa langsung melaju ke pasar modal. Ada proses panjang yang harus dilalui. "Banyak sekali perusahaan-perusahaan yang memang secara market cap itu bagus untuk kita IPO," ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Ia memaparkan, Danantara menjalankan empat tahapan konsolidasi sebelum sebuah perusahaan diizinkan go public. Pertama, fundamental business review untuk menguji kesehatan dan potensi bisnis. Kedua, konsolidasi bisnis yang mencakup merger dan restrukturisasi internal.
Tahap ketiga, penyusunan ulang model bisnis pasca-konsolidasi. Terakhir, value creation, di mana Danantara memutuskan perusahaan mana yang layak dilepas ke publik melalui IPO dan mana yang tetap menjadi perusahaan tertutup (go private).
Target IPO Perdana dan Daftar Kandidat
Dony menargetkan proses IPO perdana dapat dimulai pada 2027. "Mudah-mudahan tahun 2027 kita akan mulai melakukan proses IPO terhadap perusahaan-perusahaan kita," katanya. Target ini memberi ruang waktu bagi perusahaan-perusahaan yang tengah menjalani restrukturisasi untuk membenahi fundamental sebelum dinilai pasar.
Nama Pupuk Indonesia dan Pelindo disebut sebagai kandidat kuat. Keduanya memiliki kapitalisasi pasar besar dan bisnis yang strategis. Pupuk Indonesia menguasai distribusi pupuk nasional, sementara Pelindo memegang monopoli pengelolaan pelabuhan di Tanah Air.
Peta Emiten BUMN Saat Ini
Sampai saat ini, tercatat 37 BUMN dan anak usahanya yang sudah tercatat di BEI. Rinciannya, 14 merupakan BUMN langsung dan 23 lainnya anak perusahaan pelat merah. Jumlah ini stagnan dalam dua tahun terakhir, menandakan tidak ada tambahan emiten baru sejak PGEO melantai.
Jika rencana ini terealisasi, gelombang IPO berikutnya akan menjadi ujian bagi Danantara dalam mengelola valuasi dan kepercayaan investor. Pasar modal Indonesia selama ini menjadi barometer utama kepercayaan publik terhadap tata kelola BUMN.
Dengan proses seleksi yang berlapis, Danantara tampaknya tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu. Konsolidasi bisnis yang menyeluruh diharapkan membuat perusahaan yang melantai benar-benar siap bersaing di pasar terbuka.