HMD Asha 305: Ponsel Android Mini Rp 1,1 Jutaan – Antara Nostalgia dan Kompromi Berat

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 09:14:31 WIB
HMD Asha 305 resmi diluncurkan di Filipina pada Selasa (28/7/2026) dengan harga Rp 1,1 juta.

BANTEN — HMD resmi meluncurkan HMD Asha 305 di Filipina pada Selasa (28/7/2026). Ponsel ini langsung mencuri perhatian karena ukurannya yang mini di era layar 6,5 inci ke atas. Dengan harga 3.990 peso (sekitar Rp 1,1 juta), Asha 305 diposisikan sebagai "lite smartphone" — jembatan antara feature phone dan ponsel pintar modern. Tapi jangan terkecoh dengan nama besarnya: ponsel ini penuh kompromi.

Desain dan Layar: Mungil, Tapi Resolusi Bikin Sakit Mata

Layar 5 inci memang langka di 2026. Ukurannya nyaman digenggam satu tangan dan muat di saku kecil. Tapi HMD hanya membekalinya panel LCD dengan resolusi 480 x 854 piksel. Kerapatan pikselnya sekitar 196 PPI — sangat rendah. Ikon dan teks akan tampak pecah, apalagi jika kamu terbiasa dengan layar HD+.

HMD tidak menyebutkan material spesifik build. Kemungkinan besar full polycarbonate. Modul kamera belakangnya mengadopsi desain tiga lingkaran "boba" yang identik dengan iPhone 17 Pro — sentuhan visual aneh untuk ponsel sekelas ini.

Pulse OS Bukan Android Biasa: Hanya 100 Aplikasi, Itu Pun Versi Lite

Asha 305 menjalankan Pulse OS, turunan Android Open Source Project (AOSP). Bukan Android dengan Google Play Store lengkap. HMD mengklaim ponsel ini mendukung lebih dari 100 aplikasi — termasuk Facebook Lite, Instagram Lite, WhatsApp, TikTok Lite, dan YouTube. Kata kuncinya: Lite.

Kamu tidak bisa menginstal aplikasi berat seperti CapCut, PUBG Mobile, atau Google Maps versi penuh. Pulse OS adalah ekosistem tertutup untuk kebutuhan dasar: chatting, media sosial ringan, dan browsing. Jika kamu butuh aplikasi perbankan atau Gojek versi penuh, kemungkinan besar tidak kompatibel.

Performa: Unisoc T137 dengan RAM 2 GB — Cukup untuk Antre, Bukan Gaming

Chipset Unisoc T137 adalah prosesor entry-level yang biasa ditemukan di tablet murah. Dipasangkan dengan RAM 2 GB dan penyimpanan internal 16 GB, performanya sangat terbatas. Jangan harap bisa multitasking. Buka Instagram Lite sambil WhatsApp saja sudah bikin ponsel ini ngelag. Storage 16 GB cepat penuh — sistem operasi dan aplikasi dasar menyisakan kurang dari 8 GB untuk pengguna.

Untuk gaming, lupakan. Game seperti Mobile Legends mungkin bisa diinstal versi ringannya, tapi pasti bermain di frame rate rendah dan sering drop. Ponsel ini lebih cocok untuk nenek yang cuma butuh telepon dan WhatsApp.

Kamera: 2 MP + 2 MP — Sekadar Ada

Kamera belakang 2 MP dengan lampu kilat LED dan kamera depan 2 MP. Ini kamera untuk dokumentasi dasar — foto KTP, scan dokumen, atau video call dengan kualitas VHS. Jangan berharap foto Instagramable. Bahkan di kondisi cahaya terang, hasilnya akan noisy dan lack detail. HMD menyebut kamera depan bisa untuk video call — itu benar, asal kamu tidak peduli dengan kualitas gambar.

Baterai: 2.500 mAh Removable, Tahan 32 Jam Standby — Tapi Itu Saja

Satu fitur langka: baterai 2.500 mAh bisa dilepas-pasang. Klaim standby hingga 32 jam — angka sangat kecil untuk ukuran baterai ini. Sebagai perbandingan, ponsel modern dengan baterai 5.000 mAh bisa standby hingga 3-4 hari. Di pemakaian nyata, dengan aktivitas WhatsApp dan media sosial ringan, baterai ini mungkin hanya bertahan setengah hari. Pengisian dayanya via USB Type-C, tapi tidak disebutkan watt-nya — kemungkinan hanya 5W atau 10W, sangat lambat.

Konektivitas: 4G dengan Dual SIM, Tapi Bluetooth 4.2

Asha 305 mendukung dual SIM 4G, WiFi, GPS, dan jack audio 3,5 mm. Ini nilai plus untuk ponsel murah. Tapi Bluetooth 4.2 sudah sangat ketinggalan — transfer file lambat, dan tidak mendukung codec audio modern seperti aptX atau LDAC. Untuk koneksi ke TWS, masih bisa, tapi latency akan terasa.

Kelebihan dan Kekurangan

  • Kelebihan: Ukuran mungil dan ringan, baterai removable (langka di 2026), dual SIM 4G, jack audio 3,5 mm, harga murah Rp 1,1 jutaan.
  • Kekurangan: Layar resolusi rendah (480p), RAM 2 GB sangat terbatas, storage 16 GB cepat penuh, Pulse OS tidak kompatibel dengan banyak aplikasi, kamera 2 MP kualitas buruk, baterai kecil dengan klaim standby pendek, Bluetooth 4.2, tidak ada NFC, tidak ada Google Play Store resmi.

Verdict: Untuk Siapa Ponsel Ini?

HMD Asha 305 bukan ponsel pintar untuk kebanyakan orang. Ia adalah ponsel transisi untuk pengguna feature phone yang ingin merasakan Android — tapi versi sangat terbatas. Cocok untuk lansia yang cuma butuh WhatsApp dan telepon, atau anak kecil yang perlu ponsel pertama tanpa akses ke aplikasi berat.

Untuk Rp 1,1 jutaan, kamu bisa mendapatkan ponsel Android bekas dengan spesifikasi jauh lebih baik — misalnya Redmi 9C atau Samsung Galaxy A04 yang sudah?? — dengan layar lebih jernih, RAM 3-4 GB, dan kamera 8 MP yang lumayan. Asha 305 hanya menarik jika kamu benar-benar menginginkan ponsel baru dengan ukuran mini dan baterai lepas — dua hal yang memang sudah punah di kelas ini.

Kesimpulan: beli hanya jika kamu siap dengan segala keterbatasannya. Untuk kebutuhan harian modern, cari alternatif lain.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: tekno.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top