CILEGON — Ribuan meter kain merah putih membentang di atas gelombang Selat Sunda, menandai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Pemandangan itu tercipta dari aksi Lanal Banten bersama komunitas Pulau Merak Besar Squad yang menggelar atraksi bahari di perairan Kota Cilegon pada Sabtu.
Bendera berukuran 40 x 25 meter itu tidak sekadar menjadi simbol seremonial. Komandan Lanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani menegaskan bahwa pembentangan tersebut merupakan penegasan bahwa laut adalah urat nadi dan bagian tak terpisahkan dari kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan dengan tema "Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur" ini tidak berhenti pada pengibaran bendera. Lanal Banten bersama masyarakat melepasliarkan 25 ekor tukik ke habitat alaminya serta melakukan transplantasi 500 bibit terumbu karang di kawasan Pulau Merak Besar.
"Kemerdekaan tidak hanya dimaknai dengan mengibarkan sang Merah Putih, tetapi juga melalui aksi nyata merawat kekayaan alam. Menjaga laut adalah menjaga masa depan, menghidupkan wisata adalah menggerakkan ekonomi, dan merawat Pulau Merak Besar adalah bagian dari menjaga Indonesia," tegas Letkol Wawan di Cilegon.
Langkah konservasi ini dinilai krusial bagi keberlanjutan ekosistem laut. Terumbu karang yang terjaga dan biota laut yang berkembang diharapkan mampu memperkuat daya tarik wisata bahari di wilayah tersebut.
Posisi Pulau Merak Besar yang menjadi gerbang utama penghubung Pulau Jawa dan Sumatera menjadikannya vital dari aspek pertahanan dan keamanan. Potensi itu pula yang mendorong kawasan ini digarap sebagai ruang pertumbuhan ekonomi baru.
Letkol Wawan menyebut bahwa menjaga kelestarian laut merupakan bagian dari upaya menghidupkan pariwisata yang berdampak langsung pada peningkatan perekonomian masyarakat pesisir.
Rangkaian peringatan turut diperkaya unsur edukasi dan kebudayaan. Pameran foto lawas, penampilan kesenian tradisional Bandrong, serta orasi ilmiah kelautan mewarnai jalannya acara.
Keterlibatan unsur pemerintah, komunitas, dan dunia usaha dalam acara ini menjadi cerminan bahwa pengembangan kawasan wisata membutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan.