TANGERANG — Momentum 17 Agustus 2026 tidak membawa berkah bagi pedagang bendera musiman di Tangsel. Alih-alih meraup untung besar, sejumlah pedagang yang biasa mangkal setiap tahun di kawasan Pamulang dan Serpong Utara justru harus pasrah menerima kenyataan pahit: pembeli sepi dan omzet jeblok.
Uun (60), pedagang asal Cirebon yang telah berjualan di Pamulang sejak 1 Agustus lalu, mengaku pendapatannya tahun ini hanya berkisar Rp300.000 hingga Rp400.000 per hari. Padahal, pada momen serupa tahun sebelumnya, omzet hariannya mampu menembus Rp600.000.
Keluhan serupa disampaikan Usman (70), pedagang lainnya yang memilih membuka lapak di kawasan Serpong Utara. Pria asal Cirebon ini mengatakan jumlah pembeli yang datang tahun ini sangat minim, bahkan di hari-H kemerdekaan sekalipun.
"Sedikit yang beli. Per hari kadang-kadang laku dua potong, kadang tiga potong. Enggak kayak dulu," ujarnya saat ditemui di lapaknya, Senin (17/8/2026).
Untuk menarik pembeli di tengah lesunya pasar, para pedagang membanderol dagangannya dengan harga yang bervariasi. Bendera berukuran kecil dijual dengan harga mulai Rp10.000 hingga Rp20.000 per potong.
Sementara itu, untuk bendera berukuran standar hingga varian bermotif Garuda, banderol harganya berkisar antara Rp25.000 sampai Rp100.000. Namun, daya beli masyarakat yang rendah membuat dagangan mereka tak laku keras.
Di tengah tekanan omzet yang turun, Uun memilih strategi ekstra ketat untuk menekan pengeluaran. Ia mengaku tidak menyewa tempat tinggal, melainkan menumpang tidur di toko bunga milik kenalannya di Pamulang. Setiap hari, ia berjualan dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
Senin sore menjadi hari terakhir bagi para pedagang musiman ini menggelar lapaknya. Setelah merapikan sisa dagangan yang belum terjual, sebagian besar dari mereka memilih langsung kembali ke kampung halaman di Cirebon.
"Iya, sore ini pulang ke Cirebon," pungkas Uun.