Saiko Consultancy Akuisisi 29,41% Saham NAYZ, Lanjut Tender Wajib Rp87,7 Miliar

Penulis: Chandra Kusuma  •  Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:06:31 WIB
Ilustrasi transaksi saham PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) di Bursa Efek Indonesia.

BANTEN — Saiko Consultancy Pte Ltd resmi menguasai 750 juta saham atau 29,41 persen PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) setelah membeli seluruh kepemilikan PT Asia Intrainvesta pada harga Rp23,5 per saham, senilai total sekitar Rp17,63 miliar. Perusahaan asal Singapura itu tidak berhenti di situ—melalui anak usahanya PT Saiko Consultancy Grand, Saiko akan melaksanakan penawaran tender wajib atas maksimal 1,17 miliar saham atau 45,84 persen modal ditempatkan perseroan dengan harga Rp75 per saham.

Transaksi akuisisi itu mengubah peta kendali NAYZ secara signifikan. Posisi pengendali yang sebelumnya dipegang PT Asia Intrainvesta kini berpindah ke Saiko Consultancy, perusahaan yang berbasis di Singapura. Harga Rp23,5 per saham yang disepakati jauh di bawah harga tender wajib yang ditetapkan Rp75 per saham.

Selisih harga tersebut muncul karena mekanisme penawaran tender wajib diatur regulasi pasar modal. Pemegang saham publik berhak mendapat penawaran dengan harga yang mencerminkan nilai wajar, bukan harga transaksi privat antara dua pihak.

Nilai Tender Wajib Capai Rp87,7 Miliar

Saiko Consultancy Grand akan menawarkan tender atas maksimal 1,17 miliar saham NAYZ, setara 45,84 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Dengan harga Rp75 per saham, nilai maksimal penawaran itu mencapai sekitar Rp87,7 miliar.

Periode penawaran tender wajib berlangsung 5 Oktober hingga 3 November 2026. Pembayaran kepada pemegang saham yang menyerahkan sahamnya dijadwalkan pada 10 November 2026.

  • Jumlah saham diakuisisi: 750 juta saham (29,41 persen)
  • Harga akuisisi: Rp23,5 per saham
  • Nilai transaksi akuisisi: sekitar Rp17,63 miliar
  • Harga tender wajib: Rp75 per saham
  • Maksimal saham ditender: 1,17 miliar saham (45,84 persen)
  • Nilai maksimal tender: sekitar Rp87,7 miliar
  • Periode tender: 5 Oktober–3 November 2026
  • Tanggal pembayaran: 10 November 2026

Kepemilikan Saiko Bisa Capai 75,26 Persen

Jika seluruh saham yang ditawarkan dalam tender wajib terserap, kepemilikan langsung dan tidak langsung Saiko Consultancy di NAYZ akan meningkat menjadi 75,26 persen. Angka itu menempatkan Saiko sebagai pemegang saham mayoritas absolut dengan ruang gerak luas untuk menentukan arah strategis perseroan.

Sisa saham yang tidak ditender tetap berada di tangan publik, namun dengan porsi yang jauh lebih kecil. Kondisi ini lazim terjadi pada perusahaan terbuka yang baru saja berganti pengendali melalui skema akuisisi diikuti tender wajib.

Fokus Bisnis Bergeser ke Telekomunikasi dan Teknologi

NAYZ sebelumnya dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman melalui merek Hassana. Dengan masuknya Saiko Consultancy sebagai pengendali baru, arah bisnis perseroan diperkirakan mengalami perubahan mendasar.

Saiko Consultancy disebut akan mengembangkan bisnis telekomunikasi dan teknologi di NAYZ. Langkah ini menandai pergeseran portofolio dari sektor konsumer ke sektor yang lebih padat modal dan teknologi.

Bagi investor, perubahan pengendali sering menjadi katalis re-rating saham, terutama jika pemegang saham baru membawa rencana bisnis yang jelas. Namun, eksekusi strategi dan pendanaan menjadi faktor penentu apakah pasar akan merespons positif dalam jangka menengah.

Yang Perlu Dicermati Pemegang Saham

Selisih harga antara transaksi akuisisi Rp23,5 per saham dan harga tender wajib Rp75 per saham menjadi perhatian utama. Pemegang saham publik yang ingin keluar berpeluang mendapat harga lebih tinggi melalui mekanisme tender.

Sebaliknya, investor yang memilih bertahan perlu mencermati rencana bisnis telekomunikasi dan teknologi yang akan dijalankan Saiko. Tanpa kejelasan model bisnis dan sumber pendanaan, perubahan pengendali hanya menjadi peristiwa korporasi tanpa dampak nyata pada kinerja perseroan.

Jadwal pembayaran 10 November 2026 menjadi tenggat yang perlu dicatat pemegang saham yang berencana mengikuti tender wajib. Keterlambatan atau kegagalan pembayaran akan menjadi risiko yang harus diantisipasi.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top