BANTEN — General Motors ternyata sudah membuat mobil listrik modern pertama jauh sebelum EV1, yakni konsep XP 512E yang diperkenalkan pada pameran Progress of Power 1969. Mobil mungil ini hanya mampu menempuh 58 mil pada kecepatan 25 mph, dan turun jadi 47 mil saat dipacu hingga 30 mph. XP 512E menjadi bagian dari empat konsep kendaraan yang dipamerkan GM di Technical Center, Warren, Michigan.
XP 512E bukan sekadar satu unit konsep. General Motors membangunnya sebagai bagian dari keluarga mobil kota mungil yang dipersiapkan khusus untuk pameran Progress of Power 1969, sebuah acara pers yang mengundang media dari seluruh Amerika Serikat ke Warren, Michigan. Di sana, GM memamerkan sejumlah terobosan powertrain, mulai dari baterai silver-zinc, sel bahan bakar hidrogen, turbin, motor hub roda, mesin uap modern, hingga catalytic converter awal. GM sendiri baru mengembangkan catalytic converter siap produksi pada 1975.
Secara resmi dikenal sebagai 512 Electric Experimental, mobil ini punya dimensi 86,3 inci panjang, 56 inci lebar, dan wheelbase 52 inci. Artinya, XP 512E sekitar satu kaki lebih pendek dan 3 inci lebih sempit dibanding Smart Fortwo generasi pertama. Bobotnya juga sekitar 250 pon lebih ringan dari Fortwo, yakni 1.250 pon berbanding sekitar 1.500 pon.
Bodi fiberglass dan paket baterai lead-acid 84 volt yang dirancang khusus untuk menghemat bobot menjadi kunci ringannya. Motor DC dipasang di belakang, dan akselerasinya jelas bukan standar EV masa kini: butuh sekitar 12 detik untuk mencapai top speed 30 mph.
Di sisi pengisian daya, XP 512E justru tergolong kompetitif. Dari stopkontak rumah 115 volt, baterainya penuh dalam waktu sekitar 7 jam. Sebagai perbandingan yang tidak sepenuhnya setara, Toyota bZ 2027 membutuhkan sekitar 60 jam untuk terisi penuh menggunakan charger Level 1.
Interiornya sederhana. Hanya ada satu bangku bench, heater/defroster, dan asbak. Titik menariknya ada pada kanopi unik yang bisa dimiringkan ke belakang, dipadukan pintu depan bawah yang terbuka dengan gaya BMW Isetta. Kanopi itu juga menciptakan pengalaman berkendara terbuka karena bisa dikendarai dalam posisi terbuka.
Beberapa mobil di pameran itu, termasuk XP 512E, tersedia untuk dicoba duduk di belakang kemudi. Ketika Tom McCahill dari Mechanix Illustrated mengambil giliran, ia menyebut mobil itu "quite smooth" atau cukup halus, mengutip Hemmings.
XP 512E bukan satu-satunya konsep berlabel XP 512 di acara itu. Ada pula XP 512H, plug-in hybrid pertama GM yang muncul lebih dari 40 tahun sebelum Chevrolet Volt, yang dianggap sebagai PHEV produksi massal pertama di dunia. Informasi soal 512H lebih terbatas, tapi garis besarnya cukup jelas: mesin bensin 200 cc dipadukan motor listrik DC yang mengambil daya dari baterai lead-acid 72 volt.
Yang menarik, mesin bensinnya bisa ikut menggerakkan roda sekaligus membantu menghasilkan listrik untuk baterai. Mobil ini berjalan murni dengan listrik hingga 10 mph, lalu mesin bensin masuk memberi tenaga tambahan. Seperti 512E, model ini juga bisa diisi dari stopkontak rumah standar. Jangkauan listrik murninya lebih dari lima mil pada kecepatan 30 mph, dan totalnya bisa menempuh 150 mil dengan top speed 35 mph sambil menghabiskan tiga galon bensin.
Konsep terakhir, XP 512G, murni berbahan bakar bensin. Mesin dua silinder 19 inci kubik menghasilkan 12 tenaga kuda. Butuh 18 detik untuk mencapai 30 mph dan top speed-nya 45 mph, tapi konsumsinya efisien: 280 mil dari tangki 4 galon, setara 70 mpg.
Keempat konsep itu memperlihatkan arah berbeda yang sudah dieksplorasi GM sejak 1969, jauh sebelum era EV modern dimulai. XP 512E sendiri menjadi penanda bahwa mobil listrik kota mungil dengan jangkauan terbatas sudah pernah diuji coba di jalanan Warren, Michigan, lebih dari setengah abad lalu.