Pertamina Bina 3 UMKM, Produk Kulit Yogyakarta Tembus Singapura-Inggris

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 13:08:01 WIB
Perajin menyelesaikan produk batik tulis di rumah produksi Adhimas Batik, Klaten.

BANTEN — Tiga UMKM binaan Pertamina di Klaten dan Yogyakarta mengembangkan bisnis yang menyerap perajin lokal sekaligus menembus pasar ekspor, mulai dari batik tulis hingga kerajinan kulit. Pembinaan berjalan sejak 2013 hingga 2021, mencakup pelatihan, pendampingan, dan akses pameran. Model usaha seperti ini menyambungkan kegiatan ekonomi dengan pemberdayaan perempuan, penyandang disabilitas, dan pelestarian budaya.

Adhimas Batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, dikelola Suyanto sejak lebih dari 30 tahun lalu. Selain kain batik tulis, usaha ini memproduksi topeng, tempat tisu, nampan kayu, payung, sampai tumbler bermotif batik.

Langkah diversifikasi produk ditempuh untuk mendekatkan batik ke konsumen muda. Keterampilan membatik tetap jadi fondasi, sementara produk turunan membuka jalur pemasaran baru.

Rumah produksi Adhimas Batik mempekerjakan warga sekitar, termasuk pembatik penyandang disabilitas wicara. Tempat itu juga kerap dikunjungi pelajar, mahasiswa, dan wisatawan mancanegara yang ingin melihat proses membatik langsung.

Modal Pameran untuk Menembus Pasar

Suyanto bergabung sebagai mitra binaan Pertamina pada 2013. Selain pelatihan dan pendampingan, ia mendapat kesempatan ikut pameran seperti INACRAFT yang membuka akses pasar mancanegara.

Pola serupa dijalankan Joglo Ayu Tenan di Yogyakarta. Usaha yang didirikan Yayuk pada 2015 ini memadukan ekonomi kreatif dengan konsep creative wellbeing: kegiatan berkarya untuk menopang kesehatan mental dan emosional.

Pengunjung diajak menyulam, menganyam, melukis, meracik teh, hingga menulis jurnal. Ruang kreatif itu sekaligus menjadi titik temu perajin, perempuan, komunitas kreatif, dan penyandang disabilitas.

Latar belakang Yayuk sebagai penyintas Guillain-Barré Syndrome (GBS) menjadi akar gagasan tersebut. Ia ingin menghadirkan tempat orang bisa berkarya sekaligus merasa lebih tenang.

Produk Budaya Lokal Menembus Jepang

Joglo Ayu Tenan juga mengembangkan produk berbasis budaya lokal yang diminati wisatawan. Sejak dibina Pertamina pada 2018, jejaring bisnisnya melebar dan produknya sampai ke pasar internasional, dengan Jepang sebagai salah satu tujuan ekspor.

Di segmen kerajinan kulit, Kraton Leather di Yogyakarta melibatkan perajin lokal dalam produksi. Usaha rintisan Aziz Imawan Prasetyo atau Wawan ini tumbuh dari skala kecil menjadi kegiatan ekonomi dengan sejumlah mitra kerja.

Sekitar 15 perajin kini terlibat di lini produksi, sementara delapan orang lain menangani pemasaran. Produk kulitnya sudah sampai ke konsumen di Singapura, Malaysia, dan Inggris.

Wawan menerapkan pola kemitraan yang memberi penghasilan sekaligus ruang peningkatan keterampilan. Lewat transfer pengetahuan, para mitra diharapkan mampu menjalankan usaha sendiri di kemudian hari.

Kraton Leather menjadi mitra binaan Pertamina sejak 2021. Dukungan yang diterima antara lain kesempatan ikut pameran dan kegiatan pemasaran untuk memperkenalkan produk ke calon pembeli maupun mitra bisnis.

Manfaat Sosial Jadi Ukuran Keberhasilan

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyatakan pembinaan UMKM tidak berhenti pada penguatan kemampuan berbisnis. Perusahaan juga menargetkan tumbuhnya manfaat ekonomi dan sosial di lingkungan sekitar.

"Program pembinaan UMKM Pertamina dirancang untuk membantu pelaku usaha memperkuat kapasitas, memperluas akses pasar, dan meningkatkan daya saing. Kami berharap pertumbuhan UMKM juga mampu menciptakan manfaat ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat secara langsung," ujar Baron.

Menurut Baron, kapasitas usaha yang kuat dan akses pasar yang luas menjadi syarat agar UMKM bisa bertahan dalam jangka panjang. Dukungan itu diharapkan mendorong daya saing sekaligus memperlebar dampak ekonomi bagi warga.

Dari tiga contoh itu, benang merahnya jelas: pembinaan UMKM menyentuh lapisan masyarakat yang sering tersisih dari rantai ekonomi, mulai dari pembatik disabilitas hingga perajin kulit. Bagi Pertamina, keberhasilan program diukur bukan cuma dari omzet mitra, tetapi juga dari seberapa jauh manfaatnya terasa di sekitar usaha.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top