Pencarian

Bayi Boleh Makan Garam di Usia Berapa? Ini Batas Aman MPASI

Jumat, 28 Agustus 2026 • 11:53:01 WIB
Bayi Boleh Makan Garam di Usia Berapa? Ini Batas Aman MPASI
Bayi mengonsumsi MPASI yang diolah tanpa tambahan garam sesuai rekomendasi IDAI.

BANTEN — Memasuki masa MPASI, godaan untuk menambahkan garam ke makanan bayi pasti pernah terlintas. Rasanya, makanan tanpa garam terasa hambar dan membuat si kecil tidak lahap. Padahal, kebutuhan natrium bayi sebenarnya sudah tercukupi dari ASI atau susu formula.

Memberikan garam terlalu banyak sejak dini bukan hanya soal rasa, tapi juga berpengaruh pada kesehatan ginjal dan tekanan darah anak di masa depan. Berikut penjelasan lengkapnya.

Mengapa Garam Berbahaya untuk Bayi?

Ginjal bayi masih dalam tahap perkembangan dan belum seefisien ginjal orang dewasa dalam menyaring kelebihan garam. Jika dibebani terus-menerus, fungsi ginjal bisa terganggu.

Pola makan tinggi garam juga membentuk preferensi rasa. Bayi yang terbiasa dengan makanan asin cenderung menolak makanan utuh yang alami rendah garam, seperti sayuran. Efeknya, risiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung di kemudian hari pun meningkat.

Penelitian dalam jurnal Annals of Nutrition and Metabolism menegaskan bahwa kebiasaan ini bisa berdampak pada kesehatan jangka panjang dan selera makan anak.

Berapa Batas Aman Konsumsi Garam untuk Bayi?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan panduan yang cukup longgar namun tetap menekankan kehati-hatian. Untuk bayi di bawah usia 1 tahun, gula dan garam sebenarnya boleh ditambahkan ke dalam MPASI, tetapi hanya sesedikit mungkin.

Untuk anak di atas 1 tahun, makanan bisa diambil dari menu keluarga. Namun, IDAI menyarankan untuk memisahkan porsi anak sebelum bumbu tambahan seperti garam, gula, atau penyedap rasa dicampurkan ke dalam masakan.

Kebutuhan natrium harian bayi 7-12 bulan sebenarnya sudah bisa terpenuhi dari ASI atau susu formula serta natrium alami yang ada di bahan makanan. Jadi, penambahan garam ekstra sama sekali tidak diperlukan.

Tanda Bayi Kebanyakan Garam yang Perlu Diwaspadai

Efek konsumsi garam berlebih memang tidak langsung terlihat. Namun, ada beberapa tanda yang bisa diamati, seperti bayi menjadi lebih haus dari biasanya.

Dalam kasus yang jarang terjadi, kelebihan garam bisa menyebabkan hipernatremia, yaitu kondisi kadar natrium dalam darah terlalu tinggi. Gejalanya dimulai dari bayi yang rewel dan gelisah, lalu berlanjut menjadi mengantuk, lesu, dan akhirnya tidak responsif. Jika si kecil menunjukkan tanda ini, segera konsultasikan ke dokter.

Waspadai Garam Tersembunyi di Makanan Ini

Garam tidak hanya berasal dari taburan di atas makanan. Banyak makanan olahan yang mengandung garam tinggi secara tersembunyi dan sering tidak disadari.

Hindari memberikan makanan siap saji, makanan kemasan, makanan kalengan, dan camilan orang dewasa seperti kerupuk. Makanan-makanan ini biasanya mengandung natrium sangat tinggi yang tidak baik untuk bayi.

Sebagai gantinya, pilih makanan segar seperti buah, sayuran, daging tanpa bumbu, unggas, ikan segar, telur, dan kacang-kacangan. Keju memang mengandung garam, tapi tetap bisa diberikan sebagai sumber kalsium dan protein. Gunakan dalam jumlah sedikit dan jangan terlalu sering.

Intinya, selama 12 bulan pertama, fokuslah memberikan makanan utuh yang segar tanpa tambahan garam. Dengan begitu, ginjal bayi tetap sehat dan selera makannya pun terbentuk dengan baik untuk jangka panjang.

Follow bantenklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks