TANGERANG — Rekam jejak banjir di Kecamatan Kresek memperlihatkan pola kerusakan yang berulang selama lebih dari satu dekade. Pada 2015, sekitar 164 hektare sawah di Desa Koper terendam dan gagal panen. Tanggul Sungai Cidurian mulai jebol pada tahun yang sama, lalu Kampung Bojong kembali menghadapi tanggul jebol pada 2020.
Setahun setelah kejadian di Bojong, banjir mencapai ketinggian satu meter dan memutus akses transportasi antar-desa. Desember 2022, tanggul jebol di lima titik sepanjang 78 meter di Desa Pasir Ampo. Kerusakan paling luas terjadi Januari 2026 dengan panjang jebolan mencapai 115–150 meter.
Enam Desa Terdampak, Genangan Bertahan Lebih dari Sepekan
Banjir Januari 2026 merendam enam desa di Kresek. Ketinggian air berkisar 80 sentimeter hingga lebih dari satu meter, dan genangan bertahan lebih dari sepekan. Akses warga antar-desa terputus saat air belum surut.
Pemerintah melalui BBWS C3 bersama Pemerintah Kabupaten Tangerang melakukan penanganan darurat pada Februari 2026 menggunakan bronjong dan geobag. Koordinasi perbaikan serta normalisasi lanjutan disebut juga dilakukan. Namun warga menilai penanganan itu belum menjawab akar persoalan.
Kapan Tanggul Diperbaiki Permanen, Bukan Sekadar Ditahan Arus?
Pertanyaan yang paling sering muncul di Kresek bukan soal kapan bantuan datang, melainkan kapan tanggul diperbaiki secara permanen. Bronjong dan geobag dinilai hanya menahan agar tanggul tidak kembali menyerah kepada arus sungai.
Persoalan Kresek bukan kasus tunggal. Drainase minim, kali yang menyempit, rawa yang hilang, serta lahan resapan yang berganti bangunan memperbesar risiko genangan di berbagai wilayah Kabupaten Tangerang.
Betonisasi jalan membuat permukaan lebih kuat, tetapi jika jalan dibuat lebih tinggi daripada permukiman, air justru memperoleh jalur menuju rumah warga. Pembangunan semestinya memperhitungkan ke mana air mengalir setelah proyek selesai, bukan hanya soal permukaan yang mulus.
Ironi Kemarau: Digenangi Air Saat Hujan, Mengantre Air Saat Kering
Ketika kemarau tiba, wilayah Kresek dan sekitarnya menghadapi kekeringan. Warga Pasir Ampo dan Koper mengalami penyusutan debit sumur serta bergantung pada distribusi air bersih. Petani menghadapi ancaman berkurangnya pasokan irigasi.
Bantuan tangki air menjadi penyangga sementara, tetapi bukan solusi permanen. Sumur yang mengering dan irigasi yang menyusut membuat jeriken menjadi alat perjuangan harian warga.
Banjir dan kekeringan di Kresek bukan dua masalah yang berdiri sendiri. Keduanya berkaitan dengan tata ruang, pengelolaan sungai, drainase, perlindungan rawa, ketersediaan resapan, dan perencanaan infrastruktur.
Uji Keseriusan Perencanaan, Bukan Sekadar Catatan Tahunan
Pertanyaan soal keseriusan pemerintah Kabupaten Tangerang mengemuka karena bencana yang sama terus berulang. Apakah dua bencana di Kresek hanya akan menjadi catatan tahunan, ataukah pemerintah menghadapi keterbatasan sumber daya manusia untuk mengurai persoalan air yang semakin rumit?
Pertanyaan itu bukan untuk menuduh, melainkan untuk menguji keseriusan perencanaan. Warga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu membaca peta banjir, menghitung kebutuhan air, merancang drainase, dan memperbaiki kebijakan sebelum bencana datang.
Warga Kresek tidak membutuhkan masa depan yang berisi berita serupa: musim hujan kebanjiran, musim kemarau kekurangan air. Yang perlu ditunggu bukan musim berikutnya, melainkan penyelesaian yang benar-benar bekerja.