Pencarian

ITMG Genjot PLTS 152 MWp dan Bisnis Nikel, Target Saham Rp 29.300

Kamis, 10 September 2026 • 08:07:31 WIB
ITMG Genjot PLTS 152 MWp dan Bisnis Nikel, Target Saham Rp 29.300
Fasilitas PLTS milik ITMG dengan kapasitas terpasang 86 MWp yang telah beroperasi hingga kuartal II 2026.

BANTENJakarta — Ekspansi PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) ke energi terbarukan dan mineral strategis kian terlihat. Hingga kuartal II 2026, kapasitas kumulatif proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang telah dikontrak perseroan mencapai 152 megawatt peak (MWp). Dari jumlah itu, 86 MWp sudah beroperasi, tumbuh 12% dibanding kuartal sebelumnya dan lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama Indo Tambangraya Megah Mulianto menyebut pengembangan PLTS sebagai fondasi bisnis jangka panjang yang lebih beragam. "Pengembangan pembangkit listrik berbasis energi surya menjadi upaya ITMG untuk membangun bisnis yang semakin beragam, hingga mampu menciptakan nilai jangka panjang," kata Mulianto dalam paparan publik 2026, Rabu (9/9).

Nikel Jadi Pintu Masuk, Mineral Lain Menyusul

Selain surya, ITMG menandai nikel sebagai komoditas yang menarik untuk mendukung tren elektrifikasi. Mulianto menegaskan perseroan tidak ingin membatasi ekspansi mineral hanya pada satu komoditas. Peluang investasi di sejumlah mineral strategis lain masih dibidik dalam jangka panjang.

Saat ini ITMG menggenggam 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE). Mulianto membuka peluang menambah kepemilikan, dengan catatan investasi tersebut memberi nilai tambah dan sejalan dengan strategi bisnis. "Apakah kami akan menambah kepemilikan di NICE, tentu saja itu salah satu yang menjadi pertimbangan kami, apabila bisa memberikan nilai lebih," ujarnya.

Produksi Batu Bara Masih Penentu Kinerja

Di sisi hulu, produksi batu bara tetap jadi penopang utama. Manajemen menargetkan produksi 5,9 juta ton pada kuartal III 2026 dan 22 juta–22,9 juta ton sepanjang tahun. RKAB telah disetujui dengan alokasi produksi 23 juta ton. Equity Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf R B Setiadi memperkirakan produksi ITMG mencapai 21,9 juta ton tahun ini, dengan volume penjualan 25,2 juta ton atau tumbuh 2% secara tahunan.

Angka itu masih di bawah target manajemen sebesar 26,9 juta–27,5 juta ton. Risiko datang dari kepastian alokasi Domestic Market Obligation (DMO) serta kendala logistik sungai saat musim kemarau.

Dari sisi keuangan, KB Valbury memproyeksikan pendapatan ITMG mencapai US$ 2,08 miliar pada 2026, naik 10,5% secara tahunan. EBITDA diperkirakan tumbuh 11,8% menjadi US$ 383,6 juta dan laba bersih meningkat 16,6% menjadi US$ 222,6 juta.

Kontribusi Energi Terbarukan Belum Material

Adolf menilai ekspansi ke energi terbarukan dan nikel memperkuat prospek diversifikasi jangka panjang. Meski kontribusi energi terbarukan terhadap laba 2026 diperkirakan belum material, pengembangan PLTS dapat secara bertahap mengurangi ketergantungan arus kas perseroan terhadap batu bara termal.

"Kepemilikan 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) memberikan ITMG eksposur jangka panjang terhadap industri nikel Indonesia," tulis Adolf dalam risetnya.

Kinerja Semester I 2026 dan Valuasi Saham

Pada semester I 2026, ITMG mencatat pendapatan US$ 1 miliar, naik 9% secara tahunan dari US$ 919 juta pada periode yang sama 2025. Pertumbuhan ditopang kenaikan volume penjualan batu bara 5%, dari 11,7 juta ton menjadi 12,3 juta ton, serta harga jual rata-rata yang naik 4% dari US$ 78 per ton menjadi US$ 81 per ton.

"Kenaikan harga jual rata-rata tersebut sejalan dengan menguatnya harga acuan batu bara," ungkap manajemen ITMG dalam keterangannya, dikutip Selasa (11/8).

KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli saham ITMG dengan target harga Rp 29.300 per saham, mencerminkan potensi kenaikan 12,4%. Valuasi premium ITMG dibanding rata-rata sektor dinilai ditopang posisi kas bersih lebih dari US$ 700 juta pada semester I 2026, prospek laba setelah persetujuan RKAB, dan tingkat utang yang rendah.

Bagi investor, manuver ITMG menunjukkan perusahaan batu bara tidak lagi bertumpu pada satu komoditas. Namun hingga beberapa tahun ke depan, arus kas perseroan masih akan ditentukan oleh harga dan volume batu bara termal, sementara kontribusi PLTS dan nikel baru akan terasa secara bertahap.

Follow bantenklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks