BANTEN — Boeing resmi mengantongi dana tambahan 12,68 juta dolar AS (sekitar Rp 209 miliar) dari Departemen Pertahanan AS untuk memodifikasi drone pengisian bahan bakar MQ-25A Stingray. Kontrak ini berlaku hingga November 2029 dan berfokus pada penguatan perangkat keras spektrum elektromagnetik.
Angka tersebut terbilang kecil di tengah total program MQ-25 yang menelan biaya sekitar 19 miliar dolar AS. Namun, satu baris dalam pengumuman kontrak itu dibaca luas sebagai sinyal bahwa Angkatan Laut AS mulai menyiapkan Stingray untuk medan perang elektronik.
Apa Saja yang Diupgrade?
Modifikasi ini menyentuh tiga komponen utama yang semuanya berkaitan dengan keamanan dan kompatibilitas elektromagnetik:
- Radio Frequency (RF) Blanker Unit — perangkat keras kompatibilitas elektromagnetik yang mencegah pemancar pesawat "menulikan" penerimanya sendiri.
- Encrypted Mass Storage System — sistem penyimpanan massal terenkripsi yang dilengkapi Data Transfer System terintegrasi.
- Mission Management System Computer — opsi analisis dan koreksi defisiensi untuk mendukung penilaian keamanan komputer manajemen misi.
Mengapa RF Blanker Jadi Kunci?
RF Blanker mungkin terdengar teknis, tapi fungsinya sederhana. Ketika sebuah pesawat membawa banyak pemancar dan penerima sensitif dalam jarak beberapa meter, pemancar yang bekerja pada daya penuh bisa menulikan atau merusak penerima di pita frekuensi yang tumpang tindih.
Blanker mengatasi itu dengan mengambil permintaan blanking dari setiap pemancar, lalu mengirim pulsa penekan ke penerima terdampak selama transmisi berlangsung. Bagi drone yang nantinya mungkin membawa kemampuan perang elektronik canggih, perangkat ini adalah prasyarat mutlak.
Status MQ-25 Saat Ini: Tanker Udara, Bukan Pesawat EW
Laporan akuisisi Angkatan Laut AS bertanggal 21 April 2026 masih menempatkan misi utama MQ-25 sebagai pengisian bahan bakar udara. Misi sekundernya adalah Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR).
Dalam dokumen itu, tidak ada persyaratan perang elektronik resmi — hanya dua parameter kinerja kunci yang tercantum. Artinya, upgrade senilai 12,68 juta dolar AS ini kemungkinan besar bersifat defensif: mencegah pihak tak bertanggung jawab mengakses drone atau melumpuhkannya dari jarak jauh.
Kemampuan tempur Stingray saat ini adalah mengangkut sekitar 14.000 hingga 16.000 pon bahan bakar dengan radius tempur 500 mil laut. Itu menjadikannya aset vital bagi operasi carrier strike group Angkatan Laut AS.
Boeing Sudah Punya Rencana Lebih Besar
Boeing sebelumnya sudah menawarkan varian MQ-25 berbasis darat dengan pylon eksternal. Materi pemasarannya menyebut peran ISR, perang elektronik, dan peringatan dini udara. Hanya saja, varian itu belum memiliki pelanggan.
Investasi terbaru ini bisa jadi batu pertama menuju arah tersebut. Jika Angkatan Laut AS memperluas persyaratan misi Stingray, fondasi perangkat kerasnya sudah siap.
Bagi pengamat industri pertahanan, kontrak kecil ini layak dicatat. Bukan karena nominalnya, tapi karena arahnya: drone tanker pertama berbasis kapal induk AS mulai dipersiapkan menghadapi ancaman spektrum elektromagnetik yang makin padat.