SERANG — Provinsi Banten mengawali tahun 2026 dengan catatan ekonomi impresif melalui capaian investasi yang menempatkannya di bawah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Berdasarkan data Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), total investasi yang masuk ke Tanah Jawara mencapai Rp34,4 triliun sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Angka ini menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil bagi iklim usaha di Banten. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (YoY) yang sebesar Rp31,06 triliun, terjadi kenaikan realisasi lebih dari 10 persen.
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menjadi motor penggerak utama ekonomi Banten pada awal tahun ini. Dari total realisasi yang ada, modal domestik menyumbang Rp23,33 triliun atau sekitar 62 persen. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp11,03 triliun atau setara 32 persen.
Aktivitas investasi ini tersebar di berbagai sektor yang melibatkan 33.932 proyek di seluruh kabupaten dan kota se-Banten. Tingginya jumlah proyek yang dilaporkan mengindikasikan bahwa kepercayaan investor lokal terhadap stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga.
“Saya bersyukur PMDN meningkat. Kalau bisa modal asing berkolaborasi dengan usaha lokal, jadi tidak murni modal asing. Tapi melalui kerja sama modal bersama, sehingga perusahaan lokal bisa hidup,” ujar Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banten, Virgojanti, saat memberikan keterangan pers di KP3B, Kota Serang, Rabu (6/5/2026).
Meski menunjukkan performa kuat di awal tahun, Pemerintah Provinsi Banten masih memiliki tantangan besar untuk memenuhi target tahunan. Terdapat perbedaan angka target antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat yang harus dikejar dalam sembilan bulan ke depan.
Merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029, target investasi Banten untuk tahun 2026 dipatok sebesar Rp109,27 triliun. Dengan capaian saat ini, Banten telah memenuhi 31,48 persen dari target daerah tersebut.
Namun, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI menetapkan standar yang lebih tinggi bagi Banten, yakni Rp142,19 triliun. Jika mengacu pada angka pusat, maka realisasi triwulan pertama ini baru menyentuh 24,19 persen dari total target nasional.
Virgojanti menekankan pentingnya sinergi antara investor besar dengan pelaku usaha di daerah. Menurutnya, investasi tidak boleh hanya sekadar angka di atas kertas, melainkan harus mampu menghidupkan ekosistem usaha lokal melalui pola kemitraan.
Langkah kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat struktur ekonomi Banten sehingga tidak hanya bergantung pada modal dari luar. Tren positif pada awal 2026 ini diprediksi akan terus berlanjut, mengingat Banten masih menjadi salah satu destinasi utama investasi industri dan manufaktur di Indonesia.