Dinkes Kota Tangerang Siagakan Seluruh Faskes Antisipasi Hantavirus, 23 Kasus Terdeteksi di Indonesia

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Rabu, 13 Mei 2026 | 12:18:01 WIB
Dinkes Kota Tangerang aktifkan protokol deteksi dini Hantavirus di seluruh fasilitas kesehatan.

TANGERANG — Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni menginstruksikan seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk mengaktifkan protokol deteksi dini Hantavirus. Kewaspadaan diperketat terutama terhadap pasien dengan riwayat perjalanan dari luar negeri yang menunjukkan gejala demam tinggi.

Virus yang ditularkan melalui kotoran, urine, dan air liur tikus ini disebut sangat berbahaya karena dapat menginfeksi saluran pernapasan hingga ginjal. Dini menjelaskan gejala bisa muncul dalam rentang satu hingga delapan pekan setelah terpapar, diawali demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga tubuh lemas.

Gejala yang Perlu Diwaspadai Setelah Perjalanan ke Luar Negeri

“Hantavirus dianggap sangat berbahaya karena dapat menginfeksi saluran pernapasan sampai ginjal manusia,” kata Dini di Tangerang, Rabu.

Jika infeksi sudah parah, penderita bisa mengalami sesak napas hingga gagal ginjal. Dinkes Kota Tangerang telah mensosialisasikan panduan pencegahan ke seluruh faskes agar tenaga kesehatan mampu mengidentifikasi gejala awal secara tepat.

Pemkot Tangerang Imbau Warga Bersihkan Lingkungan

Pemerintah Kota Tangerang mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan. Langkah ini menjadi kunci utama karena tikus adalah reservoir utama virus Hanta.

“Pemkot Tangerang menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat seperti tikus sebagai langkah pencegahan pertama penyebaran virus Hanta di lingkungan masing-masing,” ujar Dini.

Warga diminta tidak membiarkan tumpukan sampah atau genangan air yang bisa menjadi sarang tikus. Sanitasi buruk pascabanjir disebut sebagai kondisi yang paling rawan memicu penularan.

23 Kasus di Indonesia, Varian Ringan Tanpa Fatalitas Tinggi

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memastikan 23 kasus Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejak 2023 merupakan varian ringan. Varian yang terdeteksi adalah Hanta Fever Renal Syndrome dengan tingkat kematian rendah, sekitar 15 persen.

“Di Indonesia sudah ketemu 23 kasus dari tahun 2023, tapi semuanya adalah 'Hanta Fever Renal Syndrome' yang ringan. Kalau Hantavirus yang kayak ditemukan di kapal pesiar itu, di Indonesia belum masuk,” ujar Dante.

Ia membandingkan dengan varian Pulmonary Syndrome yang fatalitasnya mencapai 60 hingga 80 persen. Varian mematikan itu ditemukan di kapal pesiar MV Hondius dan belum terdeteksi di Indonesia. Dante menambahkan pola penularan virus ini mirip leptospirosis, yakni melalui perantara tikus di lingkungan dengan sanitasi buruk pascabanjir.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top