Baterai lithium-ion pada ponsel pintar memiliki siklus pengisian terbatas—mulai dari beberapa ratus hingga 1.000 kali tergantung perangkat—sebelum kapasitasnya menurun drastis. Jika dibiarkan dalam kondisi kosong total tanpa pengisian dalam waktu lama, reaksi kimia di dalam sel baterai bisa menghasilkan gas yang menyebabkan baterai menggelembung atau swelling.
Komponen baterai lithium-ion terdiri dari anoda, katoda, separator, elektrolit, serta kolektor arus positif dan negatif. Proses kimia yang membuat baterai bisa diisi ulang ternyata juga rawan memproduksi gas berlebih. Penyebabnya antara lain pengisian berlebihan (overcharging), fluktuasi tegangan, dan paparan suhu di luar batas aman.
Android Authority mencatat bahwa baterai yang menggembung tetap bisa diselamatkan, tetapi risikonya tidak main-main. Dalam kasus ekstrem, baterai lithium-ion yang rusak bisa terbakar. Tanda-tanda awal seperti bodi ponsel yang terasa panas berlebih atau casing yang sedikit melengkung sebaiknya tidak diabaikan.
Untuk menghindari pembengkakan, ponsel sebaiknya disimpan di suhu antara 32° hingga 95° Fahrenheit (0°–35° Celsius). Di Indonesia yang bersuhu tropis, penyimpanan di dalam mobil yang terparkir di bawah terik matahari atau di dekat kompor jelas berisiko tinggi. Lepaskan charger begitu indikator baterai menunjukkan 100% dan usahakan mengisi daya saat kapasitas tersisa 20%.
Jika ponsel Android mati total dan tidak mau dicharge, penyebabnya belum tentu baterai rusak. Kabel USB yang putus atau port pengisian yang kotor juga sering menjadi biang keladi. Coba ganti kabel dan bersihkan port dengan hati-hati sebelum menyimpulkan baterai sudah dead.
Bila baterai sudah menggembung, jangan coba memakainya lagi. Solusi teraman adalah mendaur ulang baterai tersebut dan menggantinya dengan yang baru. Membawa ponsel ke pusat layanan resmi menjadi langkah paling bijak ketimbang membeli perangkat baru.
Bagi pengguna yang menyimpan ponsel lama untuk keperluan darurat—misalnya sebagai pemutar musik atau catatan digital—disarankan mengisi daya setiap beberapa bulan sekali. Baterai yang dibiarkan kosong dalam waktu lama akan melemah secara permanen. Mematikan ponsel secara berkala juga membantu mengurangi tekanan pada baterai.
Mengisi daya hingga 80% lalu mencabutnya dianggap sebagai praktik terbaik untuk memperpanjang umur baterai. Kebiasaan ini mengurangi stres pada sel lithium-ion dan mencegah degradasi dini. Di sisi lain, membiarkan ponsel terus menyala 24 jam tanpa jeda justru mempercepat penurunan kualitas baterai.
Pada akhirnya, mengganti baterai lama dengan yang baru adalah opsi paling ekonomis ketimbang membeli ponsel anyar. Dengan perawatan yang tepat, perangkat Android lawas pun bisa tetap berfungsi andal untuk kebutuhan sekunder.