BANTEN — Pertamina tidak hanya bergerak di sektor energi. Kini, perusahaan BUMN tersebut terjun langsung dalam misi kebersihan laut dengan menghadirkan kapal pengumpul sampah otomatis. Kapal ini merupakan hasil kolaborasi riset dengan ITS dan baru saja dioperasikan secara resmi di Bali.
Berbeda dengan kapal pembersih konvensional, unit ini dirancang untuk beroperasi secara otomatis. Kapal mampu menyusuri permukaan air dan mengumpulkan sampah tanpa harus dikemudikan awak secara langsung. Teknologi ini menjadi solusi bagi penanganan sampah laut yang selama ini kerap terkendala efisiensi tenaga dan biaya operasional.
Perairan Bali selama bertahun-tahun menghadapi masalah serius akibat timbunan sampah, terutama pada musim barat. Sampah kiriman dari berbagai daerah kerap menumpuk di pesisir selatan dan mengganggu kenyamanan wisatawan. Dengan kapal otomatis ini, proses pembersihan bisa dilakukan lebih cepat dan menjangkau titik-titik yang sulit diakses perahu biasa.
Bagi pelaku industri pariwisata di Bali, kabar ini menjadi angin segar. Pantai yang bersih menjadi daya tarik utama bagi turis asing yang selama ini menjadikan Bali sebagai destinasi favorit. Jika volume sampah laut bisa ditekan secara signifikan, citra pariwisata berkelanjutan yang digaungkan pemerintah daerah akan semakin kuat di mata dunia.
Dari sisi ekologi, kapal ini membantu mengurangi risiko tertelannya sampah plastik oleh biota laut. Penyu, ikan, dan terumbu karang di sekitar perairan Bali selama ini menjadi korban utama polusi sampah. Keberadaan kapal pembersih otomatis menjadi tameng pertama sebelum sampah sempat tenggelam dan merusak habitat.
Pertamina dan ITS belum merilis data spesifik mengenai kapasitas tampung sampah per hari atau jumlah unit yang akan dioperasikan ke depan. Namun, langkah ini setidaknya membuka jalan bagi adopsi teknologi maritim bersih di Indonesia. Jika terbukti efektif, bukan tidak mungkin kapal serupa akan diperbanyak dan ditempatkan di titik-titik rawan sampah laut lainnya, seperti Teluk Jakarta atau perairan Makassar.
Inisiatif ini juga sejalan dengan arahan pemerintah yang mendorong BUMN untuk berkontribusi pada agenda lingkungan hidup. Pertamina, yang selama ini identik dengan bisnis migas, mulai menunjukkan diversifikasi peran ke isu-isu sosial dan ekologi. Kapal pembersih sampah otomatis di Bali menjadi bukti bahwa perusahaan pelat merah bisa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengejar laba.