BANTEN — Perjalanan Yopanda tidak dimulai dari ruang rapat atau bangku perkuliahan. Pria yang akrab disapa Yopanda ini menghabiskan hari-harinya di ladang dan kebun, menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun, keterbatasan pendidikan tidak menghentikan langkahnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Ketika Pabrik AQUA Tanggamus dibuka di Lampung, sebuah pintu baru terbuka baginya. Perusahaan tidak serta-merta mencari tenaga kerja dari luar daerah, melainkan justru melirik warga sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Keputusan ini menjadi titik balik bagi Yopanda dan ratusan warga lainnya.
Tantangan terbesar saat itu bukan hanya soal fisik, melainkan mental. Yopanda sadar dirinya belum memiliki ijazah setara SMA, sebuah syarat administratif yang umumnya wajib di dunia industri. Alih-alih menyerah, ia memilih jalur nonformal dengan mengikuti program Paket C sambil bekerja.
“Saya ingin belajar komputer, karena sadar dunia industri pasti berbeda dengan bertani,” ujarnya mengenang masa-masa awal beradaptasi.
Perusahaan pun tidak tinggal diam. Pada tahun pertama operasional, manajemen membuka berbagai pelatihan bagi warga sekitar, mulai dari dasar-dasar keselamatan kerja hingga keterampilan teknis di lini produksi. Materi pelatihan dirancang untuk orang-orang yang sama sekali awam dengan dunia manufaktur.
Kebijakan ini sejalan dengan filosofi perusahaan yang menekankan pembangunan masyarakat. Teguh Santoso, Kepala Pabrik AQUA Tanggamus, menegaskan bahwa membangun pabrik berarti juga membangun ekosistem sosial di sekitarnya.
“Sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah yang tumbuh bersama Pabrik AQUA Tanggamus,” kata Teguh.
Kesempatan diberikan tanpa memandang latar belakang pendidikan maupun usia. Hasilnya, Yopanda yang dulu hanya mengenal cangkul dan tanah, kini dipercaya memegang posisi supervisor dengan tanggung jawab mengawasi tim di lini produksi. Ia adalah satu dari sekian banyak cerita sukses yang lahir dari program pemberdayaan tersebut.
Kisah Yopanda adalah cerminan kecil dari semangat kemerdekaan: kesempatan yang terbuka bagi siapa saja untuk mandiri dan berkembang. Ketika akses pendidikan formal tertutup, jalur alternatif seperti pelatihan kerja dan pendidikan nonformal menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
Kini, setelah satu dekade berkarya, Yopanda berdiri di lantai pabrik yang sama dengan rasa bangga. Ia bukan lagi petani yang tak punya ijazah, melainkan seorang supervisor yang membuktikan bahwa tekad dan keberanian untuk belajar mampu mengubah takdir.
Keberhasilan program ini juga menjadi catatan penting bagi industri lain di Indonesia: bahwa memprioritaskan tenaga kerja lokal bukan berarti mengorbankan kualitas, selama diiringi dengan pelatihan yang mumpuni dan kesempatan yang setara.