BANTEN — Pegadaian mematok harga emas Antam ukuran 1 gram di Rp 2.871.000 pada Senin pagi, sama persis dengan posisi sehari sebelumnya. Sementara itu, emas produksi UBS dibanderol Rp 2.815.000 per gram dan Galeri24 di level Rp 2.767.000 per gram. Ketiga produk ini tercatat tidak mengalami perubahan harga sejak Minggu (24/5/2026).
Dari sisi ketersediaan, Pegadaian menyediakan rentang ukuran yang berbeda untuk tiap merek. Galeri24 menjadi yang paling lengkap, dijual mulai dari 0,5 gram hingga 1 kilogram. Emas UBS tersedia hingga 500 gram, sementara Antam di Pegadaian hanya ditampilkan untuk ukuran 0,5 gram hingga 100 gram.
Analis Peringatkan Potensi Pelemahan Lebih Dalam
Di pasar global, tekanan terhadap harga emas masih terasa. Survei mingguan Kitco News menunjukkan mayoritas analis Wall Street memperkirakan pelemahan berlanjut pada pekan ini. Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan, harga emas sudah menembus area dukungan di level USD 4.500 per ons meski masih bergerak konsolidatif.
"Emas belum menunjukkan sinyal penguatan yang kuat. Untuk mengonfirmasi kenaikan, harga perlu menembus area USD 4.600 per ons," ujar Chandler, Senin (25/5/2026).
Chandler juga memperingatkan risiko penurunan hingga mendekati rata-rata pergerakan 200 hari di kisaran USD 4.370. Ia menambahkan, konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi memicu aksi jual cadangan emas oleh negara-negara seperti Turki dan negara Teluk.
Suku Bunga Kembali Jadi Momok
Presiden Asset Strategies International Rich Checkan menilai harga emas masih berpotensi tertekan. Menurutnya, data inflasi AS yang tinggi—tercermin dari Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI)—membuat wacana pemangkasan suku bunga semakin sulit terwujud.
"Pemangkasan suku bunga sudah lama tidak menjadi pilihan. Sekarang wacana kenaikan suku bunga mulai kembali muncul," kata Checkan.
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena investor cenderung beralih ke instrumen berimbal hasil lebih tinggi seperti obligasi.
Pasar Masih Gamang, Investor Pilih Menahan Diri
Presiden Phoenix Futures and Options Kevin Grady mengaku enggan masuk ke pasar emas saat ini. Menurutnya, volume transaksi rendah dan ketidakpastian tinggi membuat banyak pelaku pasar memilih wait and see.
"Saya pikir sekarang semua orang sebaiknya menunggu. Tidak ada yang benar-benar tahu arah pasar," ujar Grady.
Ia menambahkan, setiap perkembangan terkait Iran atau kondisi geopolitik lainnya bisa langsung memicu pergerakan harga emas dalam waktu singkat. Risiko kenaikan dan penurunan saat ini dinilai masih sama besar.
Dengan harga emas domestik yang stagnan dan prospek global yang masih suram, investor ritel disarankan mencermati pergerakan harga emas dunia serta kebijakan suku bunga AS sebelum mengambil keputusan membeli atau menjual.