BANTEN — Ketergantungan industri farmasi Indonesia pada bahan baku impor sudah sangat akut, mencapai lebih dari 95 persen. Kondisi ini membuat sistem kesehatan nasional rentan terhadap gejolak geopolitik dan lonjakan biaya logistik global. Menyadari risiko itu, PT Kimia Farma (Persero) Tbk bergerak memperkuat lini produksi hulu untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Pabrik Bahan Baku di Cikarang dan Banjaran Jadi Andalan
Salah satu senjata utama Kimia Farma adalah fasilitas produksi bahan baku obat di Cikarang yang dioperasikan oleh PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP). Saat ini, KFSP telah mengantongi 19 sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM. Dari jumlah itu, 18 di antaranya juga sudah bersertifikat halal dari BPJPH.
Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma, Hadi Kardoko, menegaskan bahwa langkah ini adalah upaya serius untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional. "Ketergantungan industri farmasi nasional terhadap impor bahan baku sangat tinggi karena mencapai lebih dari 95 persen. Hal ini menempatkan ketahanan kesehatan Indonesia dalam posisi yang sangat rentan terhadap guncangan global," kata Hadi dalam keterangan resmi, Kamis.
Selain Cikarang, Kimia Farma juga mengandalkan Plant Banjaran di Bandung sebagai fasilitas produksi terbesarnya. Pabrik seluas 51.000 meter persegi ini memproduksi berbagai bentuk sediaan obat, mulai dari tablet, kapsul, hingga cairan dan serbuk oral. Perusahaan juga mengembangkan bahan baku untuk kategori terapi prioritas seperti kardiovaskular, antibiotik, dan antiretroviral untuk HIV.
Penjualan Melonjak 124 Persen, Produk Baru Mulai Diluncurkan
Strategi penguatan lini hulu ini mulai membuahkan hasil. Kimia Farma mencatat penjualan bahan baku obat, baik untuk domestik maupun ekspor, tumbuh 124 persen pada 2025. Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, mengatakan pengembangan bahan baku lokal adalah bagian dari strategi change of source.
"Dengan inisiatif ini, Kimia Farma sedikit demi sedikit akan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor," ujar Djagad.
Perusahaan juga mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal pada produk prioritas nasional. Misalnya, obat TLE 300 mg dan 600 mg untuk penanggulangan HIV nasional yang sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 52,78 persen. Sementara itu, Rosuvastatin untuk terapi kardiovaskular mencatat TKDN 59 persen.
Pada 2025, Kimia Farma memperkenalkan empat produk baru: Fentakaf/Fentanyl Injeksi, Sildenafil, Pantokaf/Pantoprazole, dan Moxifloxacin. "Kami fokus pada pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Penguasaan lini hulu, peluncuran produk inovatif, serta capaian TKDN hingga 59 persen adalah fondasi utama Kimia Farma saat ini," ungkap Djagad.
Pemerintah Dorong Kemandirian Farmasi Nasional
Langkah Kimia Farma ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menegaskan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan industri farmasi yang mandiri. "Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan industri, kita optimistis dapat mewujudkan industri farmasi Indonesia yang semakin mandiri, berdaya saing global, dan berkelanjutan, demi mendukung ketahanan kesehatan nasional," kata Faisol saat mengunjungi Plant Banjaran, Selasa (23/6).
Pemerintah berjanji akan terus mendorong penggunaan produk dalam negeri, memperkuat TKDN, menyempurnakan regulasi, dan memberikan insentif bagi pelaku industri. Dengan struktur biaya yang lebih efisien dari produksi lokal, Kimia Farma diharapkan memiliki daya tahan lebih baik dalam menghadapi dinamika ekonomi global ke depan.