Pencarian

Hyundai Waspadai Dominasi Mobil Listrik China di Pasar AS

Senin, 21 September 2026 • 15:38:31 WIB
Hyundai Waspadai Dominasi Mobil Listrik China di Pasar AS
CEO Hyundai Motor Jose Munoz memberikan peringatan terkait potensi perubahan pasar otomotif Amerika Serikat.

BANTEN — CEO Hyundai Motor Jose Munoz memperingatkan pasar otomotif Amerika Serikat berpotensi berubah seperti Inggris dan Eropa jika pembatasan impor mobil listrik China dihapus. Kekhawatiran itu muncul di tengah wacana Presiden Donald Trump yang membuka pintu bagi pabrikan China untuk membangun fasilitas produksi di AS, sementara tarif impor saat ini masih mencapai 100 persen.

Peringatan itu disampaikan Munoz dalam wawancaranya dengan Reuters. Ia menilai pengalaman Inggris menjadi cerminan jelas tentang apa yang bisa terjadi di AS. Di negara tersebut, merek-merek China kini mendominasi daftar penjual teratas setelah hambatan impor dilonggarkan.

Menurut Munoz, kondisi serupa bisa terulang di pasar Amerika dengan skala yang berbeda. Ia menyebut hal itu hanya bisa dicegah jika ada kebijakan tertentu yang menjaga daya saing produsen lokal.

Inggris dan Eropa Jadi Contoh Nyata

Munoz menggambarkan Inggris sebagai pasar yang dulu sangat menguntungkan dan kuat. Kini, ia menilai pasar tersebut telah berubah menjadi seperti China karena tidak ada hambatan berarti bagi merek-merek Tiongkok.

Di Eropa, Uni Eropa sudah menerapkan tarif tambahan untuk merespons isu subsidi negara. Meski begitu, harga mobil buatan China diklaim masih 30 hingga 40 persen lebih murah di sejumlah wilayah pasar.

Efisiensi biaya yang tinggi inilah yang membuat Munoz menilai ancaman tersebut nyata. Produsen China disebut mampu menekan harga produksi jauh di bawah kompetitor global.

Tarif 100 Persen Jadi Penghalang Utama

Saat ini, mobil listrik China masih sulit bersaing di Amerika Serikat. Penyebabnya adalah tarif impor yang mencapai 100 persen, membuat harga jualnya tidak kompetitif di pasar lokal.

Namun, wacana pembukaan akses industri bagi produsen China memicu penolakan dari berbagai pihak. American Automotive Policy Council yang mewakili Ford, General Motors, dan Stellantis menuding pabrikan Tiongkok mendapat keuntungan tidak adil.

Mereka menyoroti praktik subsidi negara, manipulasi mata uang, serta regulasi non-pasar yang dinilai merugikan produsen AS. Tudingan ini menjadi dasar mengapa pembatasan impor dipertahankan sejauh ini.

Ford Prediksi Merek China Masuk dalam 5-10 Tahun

CEO Ford Jim Farley memperkirakan merek-merek otomotif Tiongkok akan resmi memasuki pasar AS dalam rentang lima hingga sepuluh tahun ke depan. Proyeksi itu menunjukkan bahwa tekanan kompetisi tidak akan hilang dalam waktu dekat.

Bagi konsumen Indonesia, dinamika ini menarik dicermati. Sejumlah merek China seperti BYD, Wuling, dan Chery sudah agresif di pasar lokal dengan strategi harga tajam. Jika pola ekspansi mereka di AS dan Eropa berhasil, bukan tidak mungkin strategi serupa makin gencar diterapkan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Pertanyaannya, apakah produsen seperti Hyundai yang juga punya pabrik di Indonesia akan ikut menyesuaikan strategi harga jika tekanan merek China makin kuat? Sampai sekarang, belum ada indikasi ke arah sana.

Follow bantenklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: suara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks