BANTEN — Desa Bunton di Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, bukan sekadar kawasan pesisir biasa. Wilayah ini membentang tepat di depan Samudra Hindia, membuatnya rentan terhadap gempa bumi, tsunami, banjir rob, hingga abrasi. Menyadari kerentanan itu, PLN EPI tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat manusia-manusia yang tinggal di sekitarnya.
Melalui program Srikandi Movement, perusahaan pelat merah itu menggandeng 20 perempuan setempat untuk mengikuti pelatihan "Perempuan Tangguh Bencana". Mereka dibekali keterampilan mulai dari membaca sistem peringatan dini, melakukan evakuasi mandiri, hingga memberikan pertolongan pertama dan dukungan psikososial bagi korban pascabencana.
Ketua Srikandi PLN EPI yang juga Direktur Gas dan BBM PLN EPI, Erma Melina Sarahwati, menegaskan bahwa program ini merupakan investasi sosial jangka panjang. Bukan sekadar seremonial, pelatihan ini dirancang untuk membangun sistem kesiapsiagaan berkelanjutan di sekitar area operasional PLTU Jawa Tengah 2 Adipala.
"Kami meyakini bahwa kesadaran dan budaya siaga bencana dibangun pertama kali dari lingkungan keluarga, dengan ibu sebagai pendidik pertama bagi anak-anak," ujar Erma dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
Peran perempuan memang strategis. Mereka adalah pelindung keluarga sekaligus agen perubahan yang bisa menularkan pengetahuan kepada tetangga dan komunitas yang lebih luas. Dengan kapasitas yang meningkat, risiko dan dampak saat bencana datang bisa ditekan seminimal mungkin.
PLN EPI tidak berhenti pada pemberian materi. Perusahaan juga menyerahkan perlengkapan tanggap darurat berupa alat keselamatan, perlengkapan pertolongan pertama, perangkat komunikasi, dan perlengkapan administrasi kelompok. Perlengkapan ini penting agar kelompok yang terbentuk bisa langsung beroperasi saat dibutuhkan.
Target jangka panjangnya jelas: membentuk kelompok perempuan yang memiliki kelembagaan kuat, legalitas yang sah, dan rencana kerja yang terukur. Mereka juga didorong untuk bersinergi dengan pemerintah desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan relawan kebencanaan setempat.
Pelatihan yang digelar selama tiga hari itu mengombinasikan teori, praktik lapangan, dan simulasi kebencanaan. Materi yang diberikan mencakup pengurangan risiko bencana, komunikasi risiko, hingga perlindungan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Dengan bekal ini, 20 perempuan Desa Bunton diharapkan menjadi simpul-simpul ketahanan yang siap bergerak cepat—jauh sebelum sirene berbunyi.