BANTEN — PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) menuntaskan pembelian kembali 9.596.100 saham per 11 September 2026. Saham hasil buyback kini tercatat sebagai saham treasuri dan bakal dialokasikan untuk program kepemilikan saham manajemen dan karyawan (MESOP). Selama berstatus treasuri, saham tersebut tidak dihitung dalam hak suara pada RUPSLB 27 Oktober 2026.
Manajemen UVCR menyatakan saham treasuri hasil buyback ditujukan untuk ESOP Pool dalam program kepemilikan saham bagi manajemen dan karyawan. Distribusi baru akan dilakukan setelah seluruh persyaratan korporasi, regulasi, administrasi, dan mekanisme program terpenuhi.
Dari sisi akuntansi, saham yang telah dibeli kembali dicatat sebagai saham treasuri dan disajikan sebagai pengurang ekuitas perseroan. Posisi ini membuat jumlah ekuitas yang dilaporkan lebih rendah dibandingkan sebelum buyback, meski jumlah saham beredar di pasar ikut menyusut.
Mengapa Buyback Dipilih untuk MESOP
Skema buyback untuk MESOP lazim dipakai emiten yang ingin menyediakan sumber saham program karyawan tanpa menerbitkan saham baru. Cara ini menghindari dilusi tambahan bagi pemegang saham lama, sekaligus memberi insentif jangka panjang bagi manajemen dan karyawan.
Bagi UVCR, alokasi ke ESOP Pool juga menjadi sinyal bahwa perseroan menyiapkan instrumen retensi talenta, bukan sekadar mengurangi jumlah saham beredar. Namun realisasinya bergantung pada pemenuhan seluruh syarat administratif dan regulasi yang berlaku.
Posisi Saham Treasuri dan Hak Suara di RUPSLB
Selama saham hasil buyback masih berstatus treasuri dan belum dialihkan sesuai mekanisme yang diperkenankan, saham tersebut tidak diperhitungkan dalam pelaksanaan hak suara. Ketentuan ini berlaku pada RUPSLB yang dijadwalkan 27 Oktober 2026.
Artinya, jumlah suara yang sah dalam forum tersebut hanya berasal dari saham yang beredar di luar treasury. Investor perlu mencermati komposisi pemegang saham menjelang jadwal RUPSLB untuk mengukur bobot pengambilan keputusan.
Yang Perlu Dicermati Investor UVCR
Ada tiga hal yang layak dipantau dari aksi korporasi ini. Pertama, kepastian waktu distribusi saham ke ESOP Pool, karena selama belum dialihkan, saham tetap tercatat sebagai pengurang ekuitas. Kedua, harga pelaksanaan atau dasar penilaian yang dipakai saat saham dialihkan ke peserta program. Ketiga, dampak teknis terhadap jumlah saham beredar dan rasio keuangan perseroan pasca-distribusi.
Buyback yang rampung bukan akhir cerita. Justru tahap eksekusi MESOP yang menentukan apakah manfaatnya benar-benar sampai ke manajemen dan karyawan, atau hanya berhenti sebagai pos treasuri di neraca.