BANTEN — Keputusan pencabutan ini diumumkan BMKG setelah memantau perkembangan aktivitas seismik pascagempa utama. Peringatan yang berlaku untuk wilayah pesisir Flores dan sekitarnya itu dinyatakan berakhir, seiring tidak terdeteksinya potensi gelombang besar lanjutan yang membahayakan.
Kendati status telah diturunkan, BMKG mengingatkan warga yang tinggal di pesisir pantai untuk tetap menjaga kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Nelayan yang hendak melaut juga diminta memantau perkembangan informasi cuaca dan kebencanaan dari kanal resmi.
Masyarakat diimbau tidak mudah percaya pada kabar yang tidak jelas sumbernya. Informasi valid mengenai aktivitas kegempaan dan potensi tsunami hanya dikeluarkan melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi Info BMKG dan akun media sosial terverifikasi.
Peringatan dini tsunami sebelumnya diterbitkan BMKG setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 menggunakan parameter terkini. Episenter gempa berada di Laut Flores, memicu kekhawatiran terjadinya gelombang pasang di wilayah pesisir NTT.
Mekanisme peringatan dini ini merupakan prosedur standar BMKG untuk gempa bumi besar di zona subduksi atau sesar aktif. Evaluasi berkelanjutan terhadap data tide gauge atau alat pengukur pasang surut menjadi dasar utama pencabutan status.
Peristiwa ini kembali menguji kesiapan infrastruktur kebencanaan di kawasan timur Indonesia. Respons cepat institusi terkait dalam menyebarkan informasi menjadi kunci untuk meminimalkan risiko korban jiwa di daerah dengan mobilitas tinggi seperti pelabuhan dan kawasan wisata.
BMKG menegaskan komitmennya untuk terus memutakhirkan data seismik. Publik dapat mengakses informasi terbaru mengenai aktivitas gempa dan peringatan dini melalui laman resmi dan kanal komunikasi yang telah disediakan.
Pihak berwenang setempat diharapkan melakukan evaluasi internal mengenai efektivitas jalur evakuasi dan sistem sirine, guna memastikan kesiapan menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang.