Pencarian

Rupiah Terus Tertekan ke Rp17.844 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Arus Valas Jadi Beban

Senin, 01 Juni 2026 • 10:14:01 WIB
Rupiah Terus Tertekan ke Rp17.844 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Arus Valas Jadi Beban
Rupiah melemah ke Rp17.844 per dolar AS di tengah tekanan konflik Timur Tengah dan arus valas musiman.

BANTEN — Mata uang Garuda melemah 0,21 persen pada awal pekan ini, seiring dengan pelemahan mayoritas mata uang kawasan. Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga ikut terseret ke zona merah.

Di negara maju, tekanan serupa terjadi. Euro melemah 0,12 persen, poundsterling Inggris turun 0,01 persen, dan franc Swiss menjadi yang paling terpuruk dengan koreksi 0,27 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada pun tak luput dari pelemahan.

Dua Faktor Utama yang Menahan Rupiah

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan berkonsolidasi pada rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. Dua faktor utama menjadi penahan: pertama, ketidakpastian perundingan AS-Iran yang belum menunjukkan titik terang. Kedua, investor bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan besok.

"Investor masih menunggu perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu, mereka juga mengantisipasi data penting domestik. Harga minyak yang sudah menurun bisa menjadi katalis positif bagi rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

BI: Tekanan Global dan Kebutuhan Valas Musiman

Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026 berasal dari dua sisi. Dari eksternal, konflik di Timur Tengah terus memicu ketidakpastian global. Dari internal, kebutuhan valuta asing (valas) meningkat secara musiman, terutama untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen.

"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso pada Jumat (29/5). Ia menambahkan, arus masuk dolar AS yang terbatas turut memperburuk situasi.

Intervensi BI: Hadir di Pasar 24 Jam

Menghadapi tekanan ini, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah. Lembaga tersebut mengaku akan terus melakukan intervensi melalui berbagai instrumen yang dimiliki.

"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.

Langkah intervensi ini menjadi sinyal bagi pelaku pasar bahwa BI tidak akan tinggal diam di tengah volatilitas. Namun, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global dan data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Investasi mengandung risiko.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks