BANTEN — inDrive, yang dulunya bernama inDriver, memulai sejarahnya dari keresahan sekelompok mahasiswa di Yakutsk. Saat itu, perusahaan taksi lokal menaikkan tarif hingga dua kali lipat di tengah cuaca ekstrem. Sebagai reaksi, mereka membuat grup media sosial bernama "Independent Drivers" yang mempertemukan penumpang dan sopir untuk bernegosiasi harga secara langsung.
Filosofi kebebasan memilih dan transparansi harga itu kemudian menjadi fondasi perusahaan. Hingga kini, inDrive telah berekspansi ke lebih dari 45 negara dan 700 kota di seluruh dunia. Di Indonesia, platform ini hadir sebagai alternatif bagi konsumen yang mulai jenuh dengan tarif standar dari aplikator besar.
Sistem Negosiasi Langsung, Bukan Algoritma Sepihak
Berbeda dengan aplikasi konvensional yang menetapkan harga secara mutlak, inDrive memberikan kendali kepada pengguna. Penumpang bisa menawarkan harga yang mereka anggap wajar untuk suatu rute. Sopir kemudian punya tiga pilihan: menerima, menolak, atau mengajukan harga balik.
Setelah beberapa sopir merespons, penumpang tidak langsung mendapatkan sopir secara acak. Mereka bisa memilih berdasarkan harga termurah, rating tertinggi, jenis kendaraan, atau waktu kedatangan tercepat. Proses tawar-menawar ini, menurut perusahaan, menciptakan interaksi yang lebih personal antara penumpang dan sopir.
Komisi Lebih Rendah, Pendapatan Sopir Lebih Besar
Bagi mitra pengemudi, inDrive menawarkan potongan komisi yang lebih kecil dibandingkan kompetitor. Jika aplikasi lain biasanya memotong 20% hingga 25% dari tarif, platform ini hanya mengambil komisi antara 10% hingga 15%. Selisih itu membuat sopir bisa membawa pulang pendapatan bersih yang lebih besar, meskipun tarif yang disepakati mungkin lebih rendah dari harga pasar.
Dari sisi penumpang, keuntungan utamanya adalah transparansi biaya. Tidak ada biaya tersembunyi atau lonjakan harga mendadak saat hujan. Harga yang disepakati di awal adalah harga yang dibayar. Fitur keamanan seperti berbagi lokasi perjalanan secara real-time juga tetap tersedia.
Meski membawa konsep unik, inDrive tetap harus bersaing dengan pemain mapan seperti Gojek dan Grab yang sudah mengakar di Indonesia. Namun, model negosiasi langsung ini dinilai relevan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar bertawar-menawar.