TANGERANG — Arus pergerakan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) terus menunjukkan tren pertumbuhan. Sepanjang semester I 2026, bandara yang dikelola InJourney Airports ini telah melayani 25,9 juta penumpang, dengan total pergerakan pesawat mencapai 177.724 kali.
Angka tersebut terbagi atas 17,55 juta penumpang untuk rute domestik dan 8,35 juta penumpang untuk rute internasional. Tingginya trafik ini menjadikan Soetta sebagai salah satu simpul konektivitas utama yang menghubungkan Indonesia dengan 202 destinasi, terdiri atas 130 rute internasional dan 72 rute domestik.
Posisi Soetta di Peta Penerbangan Asia Tenggara
Berdasarkan laporan Official Airline Guide (OAG) Southeast Asia Aviation Market edisi Juli 2026, Bandara Soetta menempati peringkat kedua bandara tersibuk di Asia Tenggara dengan kapasitas kursi penerbangan terjadwal sekitar 3,32 juta kursi. Angka ini meningkat 3,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Posisi pertama masih dipegang Bandara Internasional Changi Singapura dengan 3,56 juta kursi. Sementara Bandara Internasional Kuala Lumpur Malaysia berada di urutan ketiga dengan 3,15 juta kursi, disusul Suvarnabhumi Bangkok Thailand di posisi keempat dengan 2,9 juta kursi.
Menariknya, dua bandara Indonesia lainnya juga masuk dalam daftar sepuluh besar, yakni Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali di urutan kesembilan dengan 1,3 juta kursi dan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar di posisi kesepuluh dengan 953.513 kursi.
70 Maskapai Melayani Rute Domestik dan Internasional
General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta Heru Karyadi mengatakan, hingga saat ini terdapat 70 maskapai yang beroperasi di Soetta. Jaringan penerbangan yang luas ini memperkuat peran bandara sebagai hub utama di kawasan Asia.
"Jaringan penerbangan tersebut terus memperkuat peran Soekarno-Hatta sebagai simpul konektivitas nasional sekaligus salah satu hub penerbangan terpenting di kawasan Asia," ujar Heru di Tangerang, Jumat.
Dia menambahkan, tingginya angka konektivitas menjadi indikator bahwa Soetta terus berkembang sebagai bandara strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat. Namun di balik capaian tersebut, terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan pertumbuhan trafik diiringi peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan.
"Di balik capaian tersebut, terdapat tanggung jawab yang semakin besar untuk memastikan setiap pertumbuhan trafik diikuti dengan peningkatan kapasitas, kualitas pelayanan, serta pengalaman perjalanan yang semakin baik bagi seluruh pengguna jasa," kata Heru.
Persaingan Ketat di Kawasan Asia Tenggara
Persaingan ketat tampak pada peringkat keempat hingga ketujuh laporan OAG. Bandara Suvarnabhumi Bangkok Thailand membukukan 2,9 juta kursi, disusul Ninoy Aquino Manila Filipina dengan 2,62 juta kursi, Ho Chi Minh City Vietnam 2,31 juta kursi, dan Hanoi Vietnam 2,21 juta kursi.
Posisi kedelapan ditempati Bandara Don Mueang Bangkok Thailand dengan 2,08 juta kursi. Adapun Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan Sultan Hasanuddin Makassar melengkapi daftar sepuluh besar dengan masing-masing 1,3 juta kursi dan 953.513 kursi.
Dengan capaian ini, Soetta tidak hanya menjadi gerbang utama penerbangan Indonesia, tetapi juga pemain kunci dalam industri aviasi kawasan. Pertumbuhan trafik yang konsisten menjadi modal penting bagi pengembangan infrastruktur dan layanan bandara ke depan.