Pencarian

Hilirisasi Nikel di Maluku Utara Tumbuhkan Ekonomi Hingga 19,64%, Kadin Dorong Dampak Langsung ke Warga Lingkar Tambang

Minggu, 07 Juni 2026 • 15:51:31 WIB
Hilirisasi Nikel di Maluku Utara Tumbuhkan Ekonomi Hingga 19,64%, Kadin Dorong Dampak Langsung ke Warga Lingkar Tambang
Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 19,64% didorong oleh hilirisasi nikel.

BANTEN — Maluku Utara kini menjadi salah satu simpul paling strategis dalam rantai pasok mineral kritis global. Daerah ini menyumbang sekitar 13-15% dari total pasokan nikel dunia. Pada kuartal pertama 2026, ekonomi Maluku Utara mencatat pertumbuhan 19,64%—tertinggi di Indonesia—berkat aktivitas pengolahan dan pertambangan yang masif. Komoditas berbasis besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik bahkan mendominasi 96,65% dari total ekspor daerah.

Namun, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengingatkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. "Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat lokal dapat mengambil peran yang lebih besar dalam rantai nilai industri, baik sebagai tenaga kerja terampil, pelaku usaha, maupun pemasok," ujarnya dalam diskusi yang mempertemukan pemerintah daerah, pelaku industri, dan organisasi internasional tersebut.

Dampak Langsung ke Masyarakat Lingkar Tambang

Pemerintah Provinsi Maluku Utara kini tengah memperkuat pendidikan vokasi dan politeknik agar relevan dengan kebutuhan sektor industri. Sherly menargetkan hingga 2030, pembangunan tidak hanya berfokus pada kawasan industri yang lebih besar, tetapi juga akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi. "Kami ingin lebih banyak warga Maluku Utara yang dapat mengisi posisi-posisi strategis di industri ini," tegasnya.

Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Ovan Tito, menambahkan bahwa kunjungan langsung ke Indonesia Weda-bay Industrial Park (IWIP) pada 1-2 Juni lalu membuka mata banyak pihak. "Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia," kata Ovan.

Tekanan Pasar Global dan Standar Keberlanjutan

Di tengah pesatnya pertumbuhan, industri nikel Indonesia menghadapi tekanan dari pasar global yang semakin ketat soal aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Executive Director NiPERA, Chris Schlekat, menilai akses pasar ke depan akan ditentukan oleh kemampuan produsen menunjukkan praktik yang dapat diverifikasi. "Penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains," tuturnya.

Co-head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schoeters, membandingkan industri nikel Indonesia dengan negara lain yang lebih matang. "Dalam waktu kurang dari satu dekade, kawasan industri dan rantai nilai yang kompleks telah tumbuh dengan sangat cepat. Kami melihat ada perusahaan yang sudah menunjukkan kemajuan dalam mengintegrasikan ESG, sementara yang lain masih dalam proses membangun sistem yang diperlukan," ujarnya.

Sementara itu, Community Outreach Coordinator IRMA, Andre Barahamin, menekankan pentingnya transparansi dan audit independen. "Transparansi bukan tentang membuka ruang untuk saling menyalahkan, tetapi memberikan fondasi yang sama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memahami kemajuan yang telah dicapai," jelasnya. Nilai ekspor produk turunan nikel Indonesia sendiri melonjak dari US$3,3 miliar pada 2018 menjadi sekitar US$34 miliar pada 2024, menunjukkan nilai tambah yang tercipta di dalam negeri semakin besar.

Bagikan
Sumber: tambang.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks