BANTEN — Belanda mungkin adalah tim nasional paling frustrasi dalam sejarah sepak bola. Dalam 50 tahun terakhir, negara berpenduduk 18 juta jiwa ini terus melahirkan generasi emas. Dari Johan Cruyff dan Total Football di 1970-an, trio Ballon d'Or Gullit-Van Basten di 1980-an, hingga era Virgil van Dijk saat ini—semua mentok di ambang gelar juara dunia.
Tiga Final, Nihil Gelar: Penderitaan yang Berulang
Kegagalan paling ikonik terjadi pada 1974 dan 1978. Tim asuhan Rinus Michels yang memperkenalkan Total Football justru kalah dari Jerman Barat dan Argentina di partai puncak. Ironisnya, gaya bermain revolusioner Belanda justru lebih dikenang ketimbang sang juara.
Pada 2010, giliran generasi Wesley Sneijder dan Arjen Robben yang tumbang. Gol Andres Iniesta di perpanjangan waktu memupus harapan Belanda untuk ketiga kalinya. "Kami pantas menang, tapi sepak bola tidak selalu adil," begitu kira-kira yang terlintas di benak para pemain.
Lebih dari Sekadar Piala: Warisan yang Tak Terbantahkan
Meski tanpa trofi Piala Dunia, pengaruh Belanda terhadap sepak bola modern tidak bisa diabaikan. Total Football yang dipopulerkan Cruyff menjadi fondasi filosofi Barcelona dan Ajax. Tujuh pemain Belanda pernah meraih Ballon d'Or, jumlah yang luar biasa untuk negara sekecil itu.
Di level Eropa, Belanda justru sukses. Gelar Euro 1988 menjadi mahkota bagi generasi Van Basten yang mencetak gol voli legendaris ke gawang Uni Soviet. Tim putri juga sempat merasakan manisnya juara Euro 2017 sebelum kembali kandas di final Piala Dunia 2019 melawan AS.
Pesaing Terberat: Hongaria, Swedia, dan Portugal
Belanda bukan satu-satunya negara besar yang belum pernah juara. Hongaria era Ferenc Puskas adalah tragedi paling menyakitkan: mereka menghancurkan Jerman Barat 8-3 di fase grup Piala Dunia 1954, tapi kalah 2-3 di final. "Kejutan Bern" hingga kini masih membekas.
Swedia, Kroasia, dan Portugal juga masuk daftar. Kroasia mencapai final pada 2018, Portugal dua kali ke semifinal, sementara Swedia empat kali tembus empat besar. Namun dari segi konsistensi dan kualitas pemain yang dihasilkan, Belanda tetap yang paling menonjol.
Tak ada yang bisa menjamin kapan kutukan ini akan berakhir. Yang pasti, setiap empat tahun sekali, oranye kembali bersemi—dan lagi-lagi harus puas sebagai pengantin, bukan mempelai.