BANTEN — Samsung Electronics Indonesia mencatatkan respons luar biasa untuk Galaxy Z Fold 8 sepanjang dua pekan pertama masa pre-order. Model ini berkontribusi sekitar 60 persen dari total pemesanan Galaxy Z 8 Series di pasar domestik. Secara keseluruhan, angka pre-order seri terbaru ini meningkat 50 persen dibandingkan generasi pendahulunya.
Antusiasme serupa juga terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Oseania. Pemesanan Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Fold 8 Ultra naik hampir 60 persen secara year-on-year. Varian warna Lavender tercatat sebagai pilihan paling populer di Indonesia.
Rekor Penjualan dan Masalah Rantai Pasok yang Mengintai
Kesuksesan komersial ini ternyata membawa konsekuensi pada lini produksi. Laporan dari ZDNet Korea mengungkapkan Samsung telah menaikkan volume pemesanan komponen secara signifikan setelah permintaan pasar melampaui proyeksi awal. Masalahnya, ketersediaan chip DDI sebagai pengendali layar mulai menjadi titik kritis.
Chip DDI untuk Galaxy Z Fold 8 memang tidak bisa dianggap remeh. Komponen ini dirancang khusus oleh Samsung System LSI dan diproduksi UMC di Taiwan dengan proses fabrikasi 22nm. Fasilitas produksi UMC untuk proses tersebut saat ini sudah beroperasi di kapasitas maksimal, membuat penambahan pasokan secara cepat menjadi hampir mustahil.
Skema Produksi Prioritas yang Tertolak
Samsung dikabarkan sempat meminta UMC menerapkan skema super hot run, jalur produksi dengan prioritas tertinggi di atas normal run dan hot run. Permintaan ini ditolak karena UMC juga memproduksi berbagai jenis chip lain menggunakan fasilitas 22nm yang sama. Perubahan jadwal mendadak berpotensi mengganggu pesanan pelanggan lain.
Kompleksitas pasokan makin bertambah karena DDI tidak bisa saling menggantikan antarperangkat. Tiga model ponsel lipat Samsung yang dirilis tahun ini menggunakan chip DDI dengan spesifikasi berbeda, sesuai karakteristik panel masing-masing. Ketika pasokan satu jenis terganggu, Samsung tidak bisa begitu saja memakai stok dari model lain.
Strategi Darurat: Mengutak-atik Stok Produk Tahun Depan
Untuk menjaga kelancaran produksi, Samsung mengambil langkah tidak biasa dengan memakai sebagian stok DDI yang dialokasikan untuk pengembangan produk tahun depan. Keputusan ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi perusahaan dalam menyeimbangkan permintaan pasar dan kesiapan produksi.
Proses pembuatan DDI memang tidak bisa dipercepat sembarangan. Dalam skenario normal, dibutuhkan sekitar empat bulan sejak wafer diproses hingga chip siap digunakan. Setelah itu, komponen masih harus dipasangkan dengan panel OLED dari Samsung Display sebelum masuk ke tahap perakitan smartphone oleh Samsung Electronics.
Rantai produksi yang panjang membuat penambahan kapasitas tidak bisa dilakukan instan ketika permintaan tiba-tiba melonjak. Di Korea Selatan, Galaxy Z 8 Series mencatatkan 1,44 juta unit pre-order hanya dalam satu pekan, menjadikannya lini ponsel lipat dengan pemesanan awal tertinggi sepanjang sejarah Samsung di negara tersebut.
Beberapa pasar bahkan terpaksa menunda jadwal pengiriman karena jumlah pesanan terus bertambah selama periode pre-order. Dengan permintaan yang masih tinggi, Samsung kini harus berjalan di tali—menjaga pasokan Galaxy Z Fold 8 tanpa mengorbankan komponen untuk generasi berikutnya.