TANGERANG — Semua slot lomba habis terisi bahkan tanpa sistem pemesanan daring. Ketua Ronggolawe Nusantara Selection (RNS), Petrus Julianus, mengungkapkan panitia menyiapkan 25 sesi perlombaan di dua lapangan dengan total 24 slot per sesi. “Antusiasnya bagus. Mudah-mudahan cuaca cerah sehingga acara ramai dan lancar,” ujarnya.
Dua Kelas Burung yang Diperlombakan
Kepala Bidang Penjurian, Kenny Rafsanjani, menjelaskan hanya dua jenis burung yang bertanding: Murai Batu dan Cucak Hijau. Penentuan pemenang bukan sekadar soal volume suara paling nyaring. Dewan juri menilai kualitas kicauan, irama lagu, variasi suara, hingga gaya burung saat bertengger di gantangan. “Itu semua penilaian untuk lomba burung,” kata Kenny.
Bupati: Ajang Silaturahmi dan Penggerak Ekonomi
Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, yang membuka langsung acara, memberikan apresiasi tinggi terhadap gelaran ini. Menurutnya, kompetisi semacam ini bukan sekadar tempat berkumpul komunitas penghobi, tetapi juga mampu menciptakan perputaran uang bagi warga sekitar. “Kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi komunitas penghobi, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat,” kata Maesyal.
Di luar arena, puluhan tenant UMKM sibuk melayani pengunjung. Maesyal bahkan sempat membeli beberapa pasang sepatu dari salah satu tenant untuk disumbangkan kepada anak yatim. Panitia juga menyisipkan kegiatan sosial berupa santunan kepada ratusan anak yatim, membuat perhelatan ini terasa lebih dari sekadar kompetisi.
Hadiah Sepeda Motor Hingga Mobil Jadi Incaran
Panitia menyediakan hadiah yang tak main-main. Selain uang tunai, peserta juga memperebutkan sepeda motor dan mobil. Suasana di arena semakin tegang saat peluit juri berbunyi dan denting gantangan bersahutan dengan riuh rendah percakapan para penghobi. Sesekali sorakan kecil pecah ketika seekor burung tampil dominan dengan lagu panjang bervolume tinggi.
Di tengah hiruk-pikuk itu, para pemilik burung berdiri dengan tangan terlipat, sesekali melirik ke arah juri. Ada pula yang tak kuasa menyembunyikan kegelisahan saat burung andalannya kurang agresif berkicau. Harapan mereka, pada akhirnya, hanya satu: suara kicau terbaik yang membawa pulang piala dan hadiah.
Di Talaga Bestari hari itu, burung-burung tak sekadar berlomba suara. Mereka menjadi alasan bagi ratusan orang untuk berkumpul, berbelanja, bersilaturahmi, dan menjaga denyut kecil ekonomi rakyat tetap hidup.