Pencarian

Pemkab Lebak Kombinasikan Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif untuk Percepatan Penurunan Stunting

Kamis, 18 Juni 2026 • 20:15:31 WIB
Pemkab Lebak Kombinasikan Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif untuk Percepatan Penurunan Stunting
Pemkab Lebak kombinasikan intervensi gizi spesifik dan sensitif untuk percepatan penurunan stunting.

LEBAK — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Banten, menggencarkan strategi percepatan penurunan stunting dengan mengombinasikan intervensi gizi spesifik dan sensitif. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena tidak hanya menyasar aspek medis, tetapi juga faktor lingkungan dan sosial yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Kombinasi dua jenis intervensi itu diungkapkan Plt Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Lebak Widy Ferdian dalam Rapat Tim Percepatan Penanggulangan Stunting (TPPS) di Lebak, Kamis.

Dua Jalur Penanganan Stunting yang Berbeda

Widy menjelaskan, intervensi spesifik adalah penanganan yang langsung menyentuh aspek gizi dan medis. Contohnya, pemberian makanan bergizi, imunisasi, hingga suplemen Tablet Tambah Darah (TTD) bagi ibu hamil.

Sementara itu, intervensi sensitif menyasar faktor pendukung non-medis. "Seperti penyediaan air bersih, sanitasi, dan bantuan sosial," ujar Widy. Dua pendekatan ini dijalankan secara paralel agar penanganan stunting lebih menyeluruh.

Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Pemkab Lebak memprioritaskan penanganan pada periode 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Sasaran utamanya adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Langkah-langkah yang dilakukan meliputi pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan, Makanan Pendamping ASI (MPASI) kaya protein hewani sejak usia enam bulan, serta pemantauan tumbuh kembang balita secara rutin di Posyandu setiap bulan.

"Semua bayi yang dilakukan penanganan stunting dilakukan pemantauan dan imunisasi rutin, menimbang dan mengukur tinggi badan di Posyandu setiap bulan, melengkapi imunisasi dasar, serta tata laksana balita bermasalah gizi sesuai pedoman," kata Widy.

Intervensi dari Hulu: Remaja Putri hingga Calon Pengantin

Upaya pencegahan tidak berhenti pada balita. Pemkab Lebak juga melakukan intervensi dari hulu, yakni pada remaja putri, khususnya pelajar sekolah, dengan pemberian tablet tambah darah (TTD).

Selain itu, setiap pasangan yang hendak menikah wajib terdaftar pada aplikasi Elsimil BKKBN. Melalui aplikasi itu, mereka mendapatkan pembekalan dan edukasi tentang gizi dan kesehatan reproduksi. "Kami berkomitmen melakukan intervensi itu agar Lebak ke depannya terbebas dari kasus stunting baru guna mempersiapkan Generasi Emas 2045," tegas Widy.

Penurunan Signifikan Keluarga Risiko Stunting

Sekretaris TPPS Kabupaten Lebak Tuti Nurasiah mengungkapkan, penanganan stunting juga dilakukan dengan menyasar Keluarga Risiko Stunting (KRS). Angka KRS dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren penurunan yang signifikan, dari 162.000 menjadi 43.088 pada tahun 2025.

Penanganan KRS dilakukan secara spesifik sesuai dengan akar masalahnya. Jika penyebabnya adalah rumah tidak layak huni, maka Dinas Permukiman akan turun tangan memberikan bantuan perbaikan. Jika karena sanitasi buruk dan kekurangan air bersih, Dinas PUPR akan membangun infrastruktur lingkungan.

"Kami melapor ke instansi yang terkait, karena mereka memiliki program penanganan dan pencegahan KRS itu," kata Tuti. Begitu pula jika KRS disebabkan oleh kemiskinan, maka akan disalurkan bantuan sosial dari Kementerian Sosial.

Bagikan
Sumber: banten.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks