Pencarian

Kenapa Banyak Gadget Modern Masih Pakai Baterai AA, Bukan Baterai Isi Ulang

Jumat, 19 Juni 2026 • 11:59:02 WIB
Kenapa Banyak Gadget Modern Masih Pakai Baterai AA, Bukan Baterai Isi Ulang
Produsen gadget mempertahankan baterai AA untuk menekan biaya produksi perangkat berdaya rendah.

BANTEN — Produsen gadget menghadapi dilema unik saat mendesain perangkat berdaya rendah. Di satu sisi, baterai lithium internal membuat produk lebih ramping dan modern. Di sisi lain, menanamkan baterai isi ulang meningkatkan biaya produksi secara signifikan — terutama untuk barang dengan harga jual di bawah Rp 500 ribu. Akibatnya, banyak perangkat rumah tangga dan aksesoris tetap mempertahankan kompartemen baterai AA.

Biaya Produksi Jadi Penghalang Utama

Menurut analisis industri, menambahkan sirkuit pengisian daya dan baterai lithium internal bisa menaikkan biaya komponen hingga 3-5 dolar AS per unit. Untuk produk massal seperti remote TV yang diproduksi jutaan unit, angka ini langsung membengkak menjadi puluhan juta dolar.

Produsen lebih memilih menekan harga jual dengan desain sederhana. Pengguna pun bisa membeli baterai AA di warung atau minimarket dengan harga Rp 2.000 - Rp 5.000 per pasang, tanpa perlu menunggu cas.

Keandalan di Kondisi Ekstrem Jadi Nilai Plus

Baterai alkaline AA memiliki keunggulan yang jarang disadari: daya tahan simpan sangat lama. Baterai AA baru bisa bertahan 5-10 tahun di gudang tanpa kehilangan daya berarti. Bandingkan dengan baterai lithium isi ulang yang mulai kehilangan kapasitas meski tidak dipakai.

Perangkat darurat seperti senter, radio portable, atau alat medis rumahan lebih diandalkan dengan baterai AA. Ketika listrik padam, pengguna tinggal beli baterai baru — tidak perlu bergantung pada stopkontak atau power bank.

Kebiasaan Pengguna dan Kemudahan Logistik

Di Indonesia, pasar baterai AA masih sangat besar. Data dari Asosiasi Elektronik Konsumen menunjukkan 78 persen rumah tangga Indonesia menyimpan setidaknya 4 buah baterai AA di laci atau lemari. Produsen alat elektronik memanfaatkan kebiasaan ini untuk mengurangi keluhan teknis.

Jika remote TV kehabisan baterai, pengguna tinggal mengganti tanpa perlu mengisi ulang selama 1-2 jam. Untuk pengguna awam yang baru kenal istilah baterai lithium, baterai AA juga tidak memerlukan pemahaman teknis soal voltase atau arus pengisian.

Kapan Produsen Mulai Beralih ke Baterai Isi Ulang?

Perubahan mulai terlihat di segmen premium. Beberapa remote TV flagship dan perangkat smart home kelas atas sudah menggunakan baterai lithium internal dengan port USB-C. Namun, untuk produk massal dengan margin tipis, transisi ini diperkirakan masih butuh 3-5 tahun lagi.

Produsen menunggu harga komponen baterai isi ulang turun ke level yang sebanding dengan baterai AA plus tempat baterai. Selama biaya produksi masih lebih murah dengan desain baterai AA, konsumen akan terus melihat kompartemen baterai di perangkat sehari-hari.

Bagi pengguna yang peduli lingkungan, solusi paling praktis saat ini adalah beralih ke baterai AA isi ulang (NiMH). Harganya memang lebih mahal di awal — sekitar Rp 30.000 - Rp 50.000 per 4 buah — tapi bisa diisi ulang ratusan kali. Perangkat tetap menggunakan desain AA, tapi sampah baterai berkurang drastis. Produsen pun tidak perlu mendesain ulang produk.

Bagikan
Sumber: bgr.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks