Pembiayaan Baru PT Astra International Tbk Tembus Rp61,8 Triliun di Semester I 2026

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:19:00 WIB

Nilai pembiayaan baru dari divisi pembiayaan konsumen PT Astra International Tbk (Astra) tumbuh 10 persen menjadi Rp61,8 triliun pada semester I 2026, didorong pembiayaan otomotif dan multi-cycle.

Pertumbuhan ini menjadi bagian dari kinerja positif bisnis Jasa Keuangan Astra secara keseluruhan, dengan laba bersih naik 6 persen menjadi Rp4,6 triliun. Bisnis Otomotif turut tumbuh, laba bersih naik 9 persen menjadi Rp5,9 triliun.

Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan pencapaian ini menunjukkan ketahanan Grup Astra di tengah tantangan bisnis. "Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Pendapatan bersih konsolidasian Rp157,9 triliun (turun 3% dari Rp162,9 triliun). Laba bersih tanpa non-recurring items Rp14,9 triliun (turun 7% dari Rp16 triliun); usai pos nonberulang Rp2,4 triliun, laba bersih final Rp12,5 triliun. Laporan belum diaudit, sesuai Standar Akuntansi Keuangan Indonesia.

Rincian Pembiayaan per Divisi

Divisi pembiayaan sepeda motor menyumbang laba bersih Rp2,4 triliun, naik 4 persen. Kontribusi laba perusahaan pembiayaan mobil naik 6 persen menjadi Rp1,2 triliun. Pembiayaan alat berat naik 1 persen menjadi Rp8,1 triliun dengan laba naik 11 persen menjadi Rp130 miliar. Perusahaan asuransi Astra tumbuh 7 persen menjadi Rp906 miliar.

Otomotif dan Segmen Lain Ikut Tumbuh

Penjualan mobil nasional naik 16 persen menjadi 437.000 unit, mobil Astra naik 10 persen, pangsa pasar 51 persen. Toyota dan Daihatsu tetap dua merek terlaris. Motor nasional naik 1 persen menjadi 3,1 juta unit, motor Honda naik 1 persen pangsa 77 persen. Laba Komponen naik 23 persen menjadi Rp921 miliar; mobil bekas naik 4 persen menjadi 15.700 unit, kendaraan kontrak naik 13 persen menjadi 29.200 unit.

Segmen Lain-lain naik 31 persen menjadi Rp1,6 triliun ditopang agribisnis dan properti. Solusi Pertambangan dan Alat Berat turun 46 persen menjadi Rp2,7 triliun akibat minimnya penjualan emas Martabe dan penurunan kuota batu bara RKAB. Martabe sempat berhenti awal 2026, aktif kembali kuartal II.

Buyback dan Strategi Baru

Astra dan PT United Tractors Tbk (UT) siapkan dana Rp10 triliun untuk buyback. "Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan," ujar Rudy.

Buyback sebelumnya Rp7,4 triliun rampung November 2025-Juni 2026. Astra jalankan MSOP Juli 2026, sejalan Strategy Roadmap baru sejak Mei 2026 yang fokus tiga bisnis inti dengan pilar Focus, Clarity, Discipline, Commitment.

"Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis," kata Rudy.

Aset bersih per saham Rp5.763 (+1%), ekuitas pemilik entitas induk naik 1 persen menjadi Rp230,1 triliun.

Reporter: Redaksi
Back to top