Terminal LPG Tanjung Sekong Cilegon Raih Sertifikasi Terminal Hijau Dunia, Pertamina Targetkan Enam Fasilitas Lain Menyusul

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 13:24:01 WIB
Terminal LPG Tanjung Sekong Cilegon meraih sertifikasi terminal hijau dunia bintang 2 dari Bureau Veritas.

CILEGON — Terminal LPG Tanjung Sekong yang dikelola PT Pertamina (Persero) mencatatkan sejarah baru sebagai terminal LPG pertama di dunia yang memperoleh Green Terminal Label Certification (GTLC) bintang 2. Sertifikasi dari Bureau Veritas (BV) ini diberikan setelah melalui proses asesmen ketat terhadap standar operasional ramah lingkungan di fasilitas penyimpanan dan penanganan LPG tersebut.

Pencapaian ini dinilai strategis karena standar Green Terminal umumnya baru diterapkan pada pelabuhan umum atau terminal peti kemas. Terminal LPG memiliki karakteristik risiko tinggi dalam kegiatan penyimpanan dan penanganan gas, sehingga sertifikasi ini menjadi bukti kapabilitas Pertamina dalam mengelola fasilitas energi berisiko tinggi secara berkelanjutan.

Integrasi Hidrogen Hijau dari Ulubelu ke Cilegon

Salah satu pengembangan utama dalam program Green Terminal di Tanjung Sekong adalah integrasi energi terbarukan melalui pemanfaatan energi surya dan rencana penggunaan hidrogen hijau. Pertamina tengah mengembangkan fasilitas produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk di Ulubelu, Lampung.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga sekitar 100 kilogram per hari menggunakan teknologi elektrolisis Anion Exchange Membrane (AEM). Hidrogen yang dihasilkan direncanakan akan dimanfaatkan di Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai bagian dari pengembangan ekosistem hidrogen Pertamina dari hulu hingga hilir.

"Sertifikasi ini menjadi kebanggaan bagi Pertamina, dan juga bagi Indonesia karena untuk pertama kalinya sebuah terminal LPG mendapatkan sertifikasi Green Terminal Label bintang 2. Ini menunjukkan transformasi Pertamina dalam membangun bisnis yang berkelanjutan bagi masa depan perusahaan maupun lingkungan," ujar Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat.

Kapasitas Setara 35-40 Persen Kebutuhan LPG Nasional

Terminal LPG Tanjung Sekong berlokasi di Cilegon, Banten, dan berperan sebagai salah satu pusat energi strategis yang mendukung penerimaan, penyimpanan, serta distribusi LPG kepada masyarakat dan industri. Terminal ini memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 98 ribu MT atau 196 ribu CBM, setara dengan 35-40 persen kebutuhan LPG nasional.

Fasilitas jetty di terminal ini mampu melayani kapal berkapasitas sekitar 3.500 hingga 65 ribu DWT (Deadweight Tonnage). Integrasi energi dari sumber hidrogen hijau tersebut ditujukan untuk meningkatkan porsi pemanfaatan energi terbarukan pada kebutuhan listrik terminal.

Target Enam Terminal Lain Raih Sertifikasi Serupa

Keberhasilan Tanjung Sekong diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan terminal minyak, gas, LNG, dan LPG lainnya, khususnya di lingkungan Pertamina Group. Perusahaan menargetkan enam fasilitas terminalnya memperoleh Green Terminal Label di masa depan, di antaranya Terminal LPG Tuban, Fuel Terminal Baubau, Fuel Terminal Kotabaru, dan Integrated Terminal Tanjung Uban.

"Sehingga ini menjadi sesuatu yang menjadi nilai tambah, keunikan, kekhasan Pertamina sehingga sustainability tadi bisa dicapai, dan dengan kolaborasi antar perusahaan semua bisa dicapai," ucapnya.

Penerapan standar Green Terminal pada fasilitas penyimpanan dan penanganan LPG ini menjadi langkah konkret Pertamina dalam menyeimbangkan aspek bisnis dan lingkungan. Transformasi ini sejalan dengan tren global industri energi yang semakin menuntut praktik operasional berkelanjutan, khususnya pada fasilitas dengan risiko tinggi.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top