LEBAK — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Banten, mempercepat hilirisasi pangan dengan target meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan menyejahterakan petani. Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menegaskan bahwa selama ini daerahnya yang menjadi penghasil pangan terbesar di Banten belum merasakan dampak ekonomi yang signifikan dari sektor tersebut.
"Kita meyakini hilirisasi pangan dapat mendongkrak pendapatan ekonomi petani," kata Amir Hamzah dalam keterangannya di Lebak, Kamis.
Data Dinas Pertanian menunjukkan luas tanam padi di Lebak mencapai 150 ribu hektare dengan tiga kali musim tanam dalam setahun. Dari lahan tersebut, produksi gabah kering pungut mencapai 500 ribu ton setara beras, sementara konsumsi beras masyarakat Lebak dengan populasi 1,5 juta jiwa hanya sekitar 148 ribu ton per tahun. Artinya, terdapat surplus beras hingga 320 ribu ton.
Meski produksi melimpah, saat panen raya banyak gabah dari Kabupaten Lebak justru dijual keluar daerah, seperti ke Subang, Karawang, Bogor, hingga Lampung. Akibatnya, nilai tambah dari pengolahan beras dinikmati daerah lain, bukan petani lokal.
Amir Hamzah meminta petani mendorong hilirisasi pangan agar gabah hasil panen tidak keluar daerah dan dikelola sendiri. "Kami berharap hasil produksi pangan itu dapat mendongkrak pendapatan ekonomi petani," ujarnya.
Pemkab Lebak telah mendirikan perusahaan daerah bernama Lebak Niaga yang bertugas menampung hasil panen petani. Perusahaan daerah ini membeli gabah dari petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sehingga rantai tengkulak bisa diputus.
Saat ini, Lebak Niaga telah memiliki Rice Milling Unit (RMU) berteknologi modern untuk memproduksi beras premium yang berkualitas. Produk beras premium tersebut dipasok ke sejumlah daerah di Banten, Jawa Barat, dan Jakarta.
"Kami minta ke depannya hasil panen petani ditampung oleh Lebak Niaga agar pendapatan ekonomi petani memiliki nilai tambah sehingga dapat menyejahterakannya," kata Amir Hamzah.
Pemerintah daerah juga mendorong setiap kelompok tani memiliki RMU skala kecil untuk menampung gabah hasil panen anggotanya. Dengan begitu, produksi beras kelompok tani bisa dijual langsung ke luar daerah dan Kabupaten Lebak memiliki branding produksi beras sendiri.
Untuk merealisasikan target ini, Pemkab Lebak berkolaborasi dengan kelompok tani, Perum Bulog, dan dinas terkait dalam menampung hasil produksi hilirisasi pangan. "Kami yakin hilirisasi pangan dapat memperkuat daya saing sektor pertanian, sehingga menciptakan petani yang lebih mandiri sehingga bermuara pada kesejahteraan," pungkas Amir Hamzah.