Harga Emas Antam Naik Rp 11.000 per Gram, Buyback Tembus Rp 2,5 Jutaan

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:36:01 WIB
Harga emas Antam naik Rp 11.000 per gram menjadi Rp 2.675.000 pada perdagangan akhir pekan ini.

BANTEN — Laju kenaikan harga emas Antam masih berlanjut. Pada perdagangan akhir pekan ini, logam mulia produksi BUMN tambang tersebut dibanderol Rp 2.675.000 per gram, sementara posisi sebelumnya masih di angka Rp 2.664.000 per gram.

Kenaikan ini juga diikuti oleh harga buyback yang ditetapkan Antam. Harga beli kembali emas batangan dari konsumen naik Rp 15.000 menjadi Rp 2.525.000 per gram. Artinya, selisih antara harga jual dan harga beli kembali saat ini mencapai Rp 150.000 per gram.

Sebagai gambaran, harga buyback adalah patokan yang digunakan Antam ketika nasabah menjual kembali emas batangannya. Sementara itu, harga yang tercantum di awal merupakan harga jual resmi untuk konsumen. Kedua harga ini bersifat fluktuatif dan bergerak mengikuti dinamika pasar.

Rekor Tertinggi Masih Jauh

Meski menguat, harga emas Antam saat ini masih jauh dari rekor tertinggi sepanjang sejarah yang pernah dicetak pada Kamis (29/1/2026). Kala itu, harga emas Antam sempat menyentuh level Rp 3.168.000 per gram dengan harga buyback berada di posisi Rp 2.989.000 per gram.

Untuk transaksi dalam jumlah kecil, berikut rincian harga emas Antam hari ini:

  • 0,5 gram: Rp 1.387.500
  • 1 gram: Rp 2.675.000
  • 2 gram: Rp 5.290.000
  • 5 gram: Rp 13.150.000
  • 10 gram: Rp 26.245.000

Adapun untuk ukuran besar, emas batangan 100 gram dibanderol Rp 261.712.000 dan 1.000 gram senilai Rp 2.615.600.000.

Pelemahan Dolar Jadi Pemicu

Penguatan harga emas hari ini tidak terlepas dari kondisi pasar global. Harga emas dunia di pasar spot naik 0,7% ke level US$ 4.379,39 per ounce. Dalam sepekan terakhir, harga emas mencatatkan penguatan sekitar 1%.

Sentimen positif datang dari indeks dolar AS yang melemah 0,4%. Pelemahan ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri. Selain itu, data inflasi AS yang dirilis pekan ini juga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan bulan depan.

"Indeks dolar AS yang lebih rendah merupakan pasar eksternal yang mendukung dan membantu harga emas hari ini," kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange.

Ekspektasi Suku Bunga dan Geopolitik

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini hanya 31%, turun drastis dari sekitar 55% pada pekan sebelumnya. Suku bunga yang rendah menjadi angin segar bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.

Namun, pasar juga mencermati risiko dari sisi geopolitik. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti setelah dua kapal kembali diserang. Situasi ini mendorong harga minyak naik, yang berpotensi memicu inflasi dan mengubah arah kebijakan bank sentral.

"Jika harga minyak mentah terus naik, hal itu akan menjadi elemen bearish bagi pasar logam karena dapat mendorong inflasi dan membuat bank sentral menaikkan suku bunga," ujar Wyckoff.

Sementara itu, permintaan emas di India, salah satu pasar konsumen utama dunia, masih menghadapi tekanan. Diskon harga emas di negara tersebut melebar hingga level tertinggi dalam lebih dari dua bulan.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top