BANTEN — Resolusi yang diajukan fraksi Partai Demokrat itu disahkan dengan selisih tipis, 215 suara berbanding 208. Meskipun Partai Republik menguasai DPR, empat kader mereka memilih melawan garis partai. Keputusan ini merupakan tamparan politik bagi Trump di tengah ketegangan yang memanas di kawasan Teluk.
Langkah Simbolis dengan Implikasi Politik Berat
Pemungutan suara di DPR ini sebagian besar bersifat simbolis. Resolusi serupa masih harus melewati Senat yang dikuasai Partai Republik, dan bahkan jika lolos, Trump tetap memiliki hak veto. Namun, momentum politik yang tercipta menunjukkan erosi dukungan terhadap pendekatan militeristik presiden di Iran.
"Ini merupakan penolakan bipartisan yang jarang terjadi terhadap kebijakan perang Trump," tulis kantor berita Reuters dalam laporannya, Kamis (4/6/2026). Empat suara Republik yang membelot menjadi bukti bahwa kekhawatiran terhadap eskalasi konflik mulai merambah ke dalam basis politik Trump sendiri.
Ketegangan Iran dan Hizbullah Memanas di Kawasan
Keputusan DPR AS ini muncul di tengah rangkaian peristiwa diplomatik dan militer yang saling terkait. Di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi santai kemarahan Trump yang dilaporkan mencaci maki dirinya karena operasi terhadap Hizbullah dinilai mengganggu diplomasi dengan Iran. Netanyahu menekankan bahwa mereka sepakat dalam tujuan melucuti senjata Hizbullah.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) membantah bertanggung jawab atas serangan di Bandara Internasional Kuwait yang menewaskan satu warga India dan melukai 63 orang. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, menyalahkan "kesalahan pada sistem Patriot Amerika" yang gagal mencegat rudal Iran. Di sisi lain, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang baru disepakati di Washington langsung dilanggar. Media Lebanon melaporkan serangan udara Israel di selatan negara itu hanya beberapa jam setelah kesepakatan diumumkan.
Konteks Domestik: Pemilu dan Tekanan Publik
Resolusi DPR AS ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan publik Amerika yang semakin lelah dengan perang di luar negeri. Dengan pemilu paruh waktu yang akan datang, anggota Kongres dari Partai Republik mulai menghitung risiko politik jika terus mendukung kebijakan luar negeri Trump yang agresif tanpa persetujuan legislatif. Empat suara pembelot menjadi sinyal bahwa isu perang mulai menjadi bumerang elektoral.
Proses selanjutnya akan bergantung pada Senat. Jika resolusi serupa lolos di Senat, Trump akan menghadapi dilema: menggunakan hak veto dan menunjukkan sikap otoriter, atau menerima pembatasan yang melemahkan posisinya sebagai panglima tertinggi. Apapun hasilnya, perpecahan di Washington kali ini memberikan angin segar bagi Teheran yang tengah terdesak oleh sanksi dan tekanan militer.