BANTEN — Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, mengonfirmasi kekhawatiran itu. Ia menyebut kenaikan bunga pinjaman memaksa pengusaha untuk menghitung ulang setiap rencana investasi yang bergantung pada pendanaan bank.
"Naiknya kredit itu bisa, bukan menahan, tetapi mungkin salah satu pertimbangan untuk menghitung ulang. Ini yang investasinya menggunakan bank," ujar Budihardjo saat dihubungi, Minggu (21/6/2026).
Apa Dampak Langsung bagi Sektor Ritel dan Otomotif?
Sektor ritel menjadi yang paling rentan. Margin bisnis ritel yang tipis membuat setiap kenaikan biaya modal langsung terasa. Jika suku bunga naik, biaya sewa pusat perbelanjaan dan bunga kredit modal kerja ikut membengkak. Akibatnya, pengusaha terpaksa menunda pembukaan gerai baru atau bahkan mengurangi stok barang.
Sektor otomotif juga tak luput dari tekanan. Kenaikan suku bunga kredit kendaraan bermotor (KKB) secara langsung menekan minat beli konsumen. Cicilan yang lebih tinggi membuat banyak calon pembeli menunda keputusan membeli mobil atau motor baru. Data penjualan otomotif nasional pun diprediksi akan melambat dalam beberapa bulan ke depan.
Kapan Suku Bunga Mulai Naik dan Siapa yang Paling Terdampak?
Tren kenaikan ini kembali mencuat seiring upaya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menstabilkan nilai tukar rupiah. Tekanan terhadap kurs membuat BI kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dalam waktu dekat. Para pengusaha yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS atau yang bergantung pada bahan baku impor akan menjadi pihak yang paling terpukul.
Namun, Budihardjo juga menyoroti sisi lain dari kebijakan ini. Kenaikan bunga pinjaman biasanya diikuti oleh kenaikan bunga simpanan. Ia berharap hal ini justru bisa mendorong konsumsi masyarakat.
Apakah Kenaikan Bunga Simpanan Bisa Menyelamatkan Daya Beli?
Logikanya, suku bunga deposito yang lebih tinggi akan meningkatkan pendapatan bunga bagi nasabah. Uang yang mengendap di bank punya imbal hasil lebih besar. Dalam teori, ini bisa mendorong konsumsi. Namun, efeknya tidak instan dan sangat tergantung pada proporsi masyarakat yang memiliki simpanan besar.
Untuk kelas menengah ke bawah yang mayoritas tidak memiliki deposito, kenaikan suku bunga justru berarti cicilan lebih mahal dan daya beli semakin tergerus. Dengan kata lain, kebijakan ini berpotensi menciptakan jurang konsumsi yang semakin lebar antara kelompok mampu dan tidak mampu.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis?
Bagi investor, kenaikan suku bunga menjadi sinyal untuk lebih selektif. Sektor perbankan biasanya diuntungkan karena spread bunga bersih (NIM) melebar. Sebaliknya, saham-saham ritel dan properti yang sensitif terhadap bunga akan tertekan. Pelaku bisnis disarankan untuk mengunci suku bunga kredit tetap (fixed rate) selama mungkin sebelum kebijakan resmi diumumkan.
Investasi mengandung risiko.