BANTEN — Komunitas ilmiah dan pecinta biota laut Indonesia kembali dihebohkan dengan kemunculan ikan purba coelacanth di perairan Maluku Utara. Ikan yang masuk daftar sangat terancam punah versi International Union for Conservation of Nature (IUCN) ini sebelumnya hanya diketahui menghuni perairan dalam Sulawesi Utara.
Coelacanth Indonesia memiliki nama ilmiah Latimeria menadoensis, diambil dari lokasi penemuannya di Manado. Keberadaannya menjadi bukti bahwa spesies yang menghilang dari catatan fosil sejak era dinosaurus masih bertahan di kedalaman laut tropis.
Kisah kemunculan kembali ikan purba ini bermula pada 22 Desember 1938. Marjorie Courtenay-Latimer, kurator East London Museum di Afrika Selatan, menerima telepon dari kapten kapal Nerine tentang tangkapan aneh di antara hasil nelayan. Ia langsung menuju dermaga dan menemukan ikan sepanjang hampir 1,5 meter dengan sisik keras dan sirip menyerupai anggota tubuh.
"Warnanya biru pucat keunguan dengan bintik-bintik putih samar; seluruh tubuhnya memiliki kilau warna-warni perak-biru-hijau," ujar Courtenay-Latimer kepada The Guardian pada 2004. Ia menggambarkan ekor ikan itu aneh, mirip ekor anak anjing.
Kurator tersebut kesulitan mengidentifikasi spesimen karena tidak ditemukan dalam buku referensi museum. Kamar mayat setempat menolak membantu menyimpan bangkai ikan, memaksanya melakukan pengawetan (taxidermy) sebelum pembusukan merusak sampel.
James Leonard Brierley Smith dari Rhodes University, Grahamstown (sekarang Makhanda), akhirnya merespons surat Courtenay-Latimer yang menyertakan sketsa kasar ikan tersebut. Saat tiba di museum pada 16 Februari 1939, Smith langsung mengakui spesimen itu sebagai coelacanth—ikan yang diyakini punah bersamaan dengan dinosaurus.
"Meskipun saya sudah bersiap, pemandangan pertama itu menghantam saya bagaikan semburan panas yang membara dan membuat saya merasa gemetar serta aneh; tubuh saya terasa berdesir," tulis Smith dalam bukunya, Old Fourlegs: The Story Of The Coelacanth. "Saya berdiri mematung seolah-olah berubah menjadi batu. Ya, tidak ada keraguan sedikit pun; mulai dari sisik demi sisik, tulang demi tulang, hingga sirip demi sirip, itu benar-benar seekor coelacanth."
Spesimen pertama diberi nama Latimeria chalumnae, menghormati sang kurator dan Sungai Chalumna tempat ikan ditemukan. Smith kemudian memimpin pencarian selama 14 tahun hingga menemukan coelacanth kedua, membuktikan populasi ikan ini masih bertahan di alam liar.
Penemuan Latimeria menadoensis pada 1997 memperluas peta sebaran coelacanth ke kawasan Indo-Pasifik. Berbeda dengan kerabatnya di Afrika, ikan raja laut Indonesia memiliki karakteristik genetik yang khas dan beradaptasi dengan ekosistem perairan dalam di wilayah Wallacea.
Kemunculan terbaru di Maluku Utara memperkuat dugaan bahwa populasi coelacanth Indonesia lebih luas dari perkiraan awal. Meski demikian, status konservasi IUCN menempatkan ikan ini dalam kategori sangat terancam punah, menuntut perhatian serius terhadap ekosistem laut dalam yang menjadi habitatnya.
Para peneliti masih mempelajari banyak aspek kehidupan coelacanth, termasuk pola migrasi, reproduksi, dan perilaku sosialnya. Setiap penampakan baru memberikan data berharga untuk strategi konservasi spesies yang telah bertahan melewati kepunahan massal jutaan tahun lalu ini.