TANGERANG — Keterbatasan teknologi di laboratorium karantina Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menjadi sorotan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI, Jumat pekan lalu. Wakil Ketua Komisi IV, Abdul Kharis Almasyhari, mengungkapkan bahwa fasilitas penunjang di badan karantina tersebut masih tertinggal, mulai dari perangkat laboratorium hingga armada bergerak seperti Mobile X-Ray.
“Ketika kita pasang instalasi laboratorium yang bagus sebagaimana permintaan negara-negara tujuan ekspor, itu saya kira nanti akan juga diikuti dengan PNBP yang meningkat,” ujar Kharis di Kantor Pelayanan Karantina hewan, ikan, dan tumbuhan Bandara Soetta, Tangerang, Banten.
Hanya Dua Unit Mobile X-Ray untuk Banten
Salah satu temuan krusial adalah minimnya armada penunjang. Saat ini, di wilayah Banten baru tersedia dua unit Mobile X-Ray yang masing-masing ditempatkan di Bandara Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Merak. Menurut Kharis, jumlah tersebut tidak memadai untuk menutupi tingginya arus lalu lintas komoditas pertanian dan perikanan.
“Artinya ini tidak memadai. Tapi juga kita tidak mengandalkan itu. Laboratorium penunjang yang lain ini saya kira cukup banyak dan kita maksimalkan,” katanya.
Komoditas Bernilai Tinggi Jadi Prioritas
Komisi IV berkomitmen membawa isu penguatan fasilitas ini ke dalam Rapat Kerja (Raker) mendatang. Fokus pendanaan akan diarahkan pada komoditas yang memiliki frekuensi lalu lintas tinggi dan bernilai ekonomi tinggi. Kharis menegaskan, investasi pada laboratorium modern tidak akan membebani negara, melainkan justru menjadi stimulus ekonomi melalui peningkatan devisa ekspor dan PNBP.
“Nanti kita bahas di rapat dengan Komisi IV untuk kita dukung agar bisa meningkatkan layanan pada masyarakat,” tuturnya.
Kinerja Karantina Banten: 19.603 Sertifikat Ekspor Ikan
Sementara itu, Kepala Balai Karantina Banten, Duma Sari M H, memaparkan data kinerja periode Januari hingga Juni 2026. Aktivitas pelayanan menunjukkan angka tinggi, terutama pada sektor karantina ikan yang mencatat 19.603 sertifikat ekspor. Sedangkan karantina tumbuhan mendominasi layanan domestik keluar dengan 23.725 sertifikat.
“Data tersebut menunjukkan bahwa Karantina Banten tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga berperan sebagai fasilitator perdagangan yang memastikan setiap komoditas memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan,” kata Duma.
Duma menambahkan, seluruh unit pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta telah siap memberikan gambaran menyeluruh mengenai pelaksanaan tindakan karantina. Pihaknya memastikan pelayanan tidak hanya mengedepankan kecepatan dan kemudahan, tetapi juga keamanan bagi sumber daya hayati Indonesia.