Banten bukan hanya tentang Pantai Anyer atau wisata sejarah di Old Banten. Bagi perantau dan wisatawan yang sering melintasi jalur Merak–Jakarta, provinsi ini punya gudang kuliner yang otentik. Saya sendiri beberapa kali singgah di Serang dan Cilegon, dan baru sadar bahwa banyak hidangan di sini punya pengaruh Arab, Tiongkok, dan Betawi yang menyatu unik.
Dari pengalaman ngobrol dengan pedagang di Pasar Lama dan para pengemudi truk yang setiap hari melintasi Tol Tangerang–Merak, berikut tujuh kuliner yang paling sering mereka cari—bukan cuma soal rasa, tapi juga soal harga dan akses.
1. Rabeg — Daging Kambing Bumbu Kecap yang Legendaris
Rabeg adalah hidangan daging kambing berbumbu kecap, jahe, dan kayu manis. Proses memasaknya bisa 3–4 jam sampai daging empuk dan kuah mengental. Warung Rabeg H. Entol di Jalan Raya Serang–Pandeglang, Kampung Ciekek, buka dari pukul 07.00 sampai 16.00.
Harga per porsi Rp25.000–Rp35.000 sudah termasuk nasi dan lalapan. Tips dari penjual: datang sebelum jam 12 siang karena biasanya ludes. Saya pernah datang jam setengah satu, tinggal sisa tulang.
2. Sate Bandeng — Tanpa Duri, Dibakar Pakai Bumbu Kecap
Bandeng biasa dikenal penuh duri. Tapi di Banten, duri-duri itu dibuang, dagingnya dicampur kelapa parut dan bumbu, lalu dimasukkan kembali ke kulit ikan. Hasilnya: sate bandeng tanpa duri yang dibakar di atas bara api.
Satu tusuk sate bandeng ukuran besar dihargai Rp15.000–Rp20.000. Paling enak dimakan dengan sambal kecap dan nasi hangat. Sate Bandeng H. Maskan di Cilegon, dekat Stasiun Cilegon, buka dari jam 09.00 sampai 17.00. Kalau mau oleh-oleh, mereka juga jual yang beku, tahan seminggu di kulkas.
3. Angeun Lada — Sayur Pedas Khas Serang
Angeun lada adalah sayur kuah pedas dengan isian daun singkong, kacang panjang, dan terong. Yang bikin beda: bumbu lada hitam dan ebi kering yang ditumbuk kasar. Rasanya pedas, gurih, dan sedikit asin dari terasi.
Di Pasar Lama Serang, satu porsi angeun lada hanya Rp10.000–Rp15.000. Warung Ibu Imas di Jalan K.H. Sam’un buka dari jam 06.00 pagi sampai habis. Cocok untuk sarapan sebelum lanjut perjalanan ke Pelabuhan Merak.
4. Balok Menes — Kue Tradisional dari Singkong
Balok Menes mirip kue talam, tapi bahan dasarnya singkong parut dan santan. Teksturnya kenyal, rasanya manis gurih. Dinamakan "Balok" karena bentuknya persegi panjang seperti balok. Menes adalah nama kecamatan di Pandeglang tempat asalnya.
Sepotong balok dihargai Rp3.000–Rp5.000. Satu kotak isi 12 potong Rp35.000–Rp45.000. Bisa ditemukan di Pasar Menes setiap hari, atau di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Raya Pandeglang–Labuan. Paling enak dimakan dingin, teksturnya lebih padat.
5. Mi Golosor — Mi Tepung Beras dengan Kuah Kacang
Mi golosor terbuat dari tepung beras, bentuknya tebal dan kenyal. Kuahnya dari kacang tanah yang dihaluskan, dicampur petis dan cabai. Biasanya ditambah tauge dan kerupuk merah di atasnya.
Porsi standar Rp12.000–Rp18.000. Warung Mi Golosor H. Dulhadi di Jalan A. Yani, Serang, buka jam 08.00–15.00. Saya sempat tanya kenapa namanya "golosor", katanya karena dulu mi ini dimakan dengan cara digolosor (diseret) pakai sumpit kayu.
6. Emping Melinjo — Camilan Pahit yang Jadi Primadona
Emping melinjo dari Banten terkenal karena ukurannya yang besar dan rasa pahit yang khas. Proses pembuatannya masih manual: biji melinjo dipukul satu per satu dengan palu batu. Sentra produksi terbesar ada di Kampung Cikole, Kecamatan Cikeusal, Serang.
Harga emping mentah per kilogram Rp45.000–Rp60.000. Yang sudah digoreng Rp70.000–Rp90.000 per kilo. Banyak dijual di pinggir Jalan Raya Serang–Pandeglang, dekat perempatan Cikeusal. Tips: pilih emping yang warna kuning kecokelatan, bukan putih pucat—itu tanda biji melinjo tua, rasanya lebih pahit dan renyah.
7. Nasi Sumsum — Sarapan Khas Banten yang Langka
Nasi sumsum adalah nasi putih yang disiram kuah sumsum sapi, ditambah bawang goreng dan daun seledri. Tekstur kuahnya kental, rasanya gurih seperti susu. Sekarang makin jarang ditemukan, hanya beberapa warung di Cilegon dan Serang yang masih menjual.
Seporsi nasi sumsum Rp15.000–Rp20.000. Warung Nasi Sumsum H. Ujang di Jalan Stasiun Cilegon buka jam 05.00–10.00. Saya datang jam 07.30, antreannya sudah 10 orang. Kata Ujang, sumsum sapi segar harus diambil dari rumah potong pukul 04.00 pagi—kalau terlambat, stok habis.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Kuliner apa yang paling ikonik dari Banten?
Rabeg dan Sate Bandeng adalah dua yang paling sering dicari. Keduanya punya sejarah panjang dan sulit ditemukan di daerah lain.
2. Berapa kisaran harga kuliner di Banten?
Mulai Rp3.000 untuk jajanan pasar seperti Balok Menes, hingga Rp150.000 untuk satu porsi besar Rabeg atau Sate Bandeng di restoran.
3. Di mana tempat terbaik mencari oleh-oleh khas Banten?
Pasar Lama Serang, Pasar Menes di Pandeglang, dan toko oleh-oleh di sepanjang Jalan Raya Serang–Cilegon. Emping dan Balok Menes paling banyak dicari.
4. Apakah semua kuliner Banten halal?
Ya, sebagian besar pedagang adalah Muslim. Kecuali Anda makan di restoran non-halal di kawasan wisata Anyer atau Carita—itu jarang, tapi ada.
5. Kapan waktu terbaik untuk mencicipi kuliner Banten?
Pagi hingga siang hari, antara pukul 07.00–15.00. Banyak warung tutup setelah jam 16.00, terutama yang menjual Rabeg dan Nasi Sumsum.
Banten punya cerita rasa yang tidak bisa kamu dapatkan di Jakarta atau Bandung. Mulai dari Rabeg yang legit, Sate Bandeng tanpa duri, sampai Emping Melinjo yang pahitnya bikin nagih. Tidak perlu ke restoran mahal—cukup mampir ke warung pinggir jalan di Serang atau Cilegon, dan kamu akan menemukan cita rasa yang diingat lama.