BANTEN — Presiden RI Prabowo Subianto bertindak sebagai inspektur upacara dalam pelantikan 1.204 praja Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII Tahun 2026. Upacara digelar di Lapangan Parade Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Mendagri Tito Karnavian mendampingi presiden dalam prosesi tersebut.
Tiga Lulusan Terima Penghargaan Langsung dari Presiden
Prabowo menerima tiga lulusan terbaik IPDN di atas panggung. Mereka mendapatkan penghargaan berbeda sesuai kategori prestasi.
- Aji Bayu Ramadhan – penerima penghargaan Kartika Astha Bratha. Ia merupakan anak dari Winoto Hadi, seorang buruh bangunan.
- Charina Anggie Simbolon – meraih penghargaan Sapta Abdi Praja. Ayahnya, Peltu TNI Marisi Mangapul Simbolon, adalah anggota TNI.
- Mohamad Toriq Anwar – juga menerima penghargaan Sapta Abdi Praja. Ia berasal dari keluarga petani; ayahnya bernama Wartoyo.
Setelah memberikan penghargaan, Prabowo menyematkan tanda pangkat secara simbolis kepada ketiga pamong praja muda tersebut.
Ikrar Pamong Praja Muda: Siap Berkorban Jiwa Raga
Dalam amanatnya, presiden memandu seluruh praja mengucapkan ikrar pengabdian. Kutipan sumpah tersebut dibacakan serempak oleh 1.204 lulusan.
"Seluruh Pamong Praja Muda supaya mengikuti dan mengulangi kata-kata saya. Bahwa saya akan melaksanakan tugas pemerintahan dengan sebaik-baiknya. Setia dan menjadi perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945," ujar Prabowo.
"Bahwa saya siap berkorban jiwa raga untuk kepentingan negara, bangsa dan masyarakat. Bahwa saya akan setia melayani, mengabdi dan menjadi tauladan kepada masyarakat," imbuhnya.
Rekrutmen ASN dari Kampus Kepamongprajaan
IPDN merupakan institusi pendidikan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Dalam Negeri. Lulusannya diproyeksikan mengisi jabatan di pemerintahan daerah, mulai dari camat, sekretaris desa, hingga aparatur sipil negara di berbagai dinas. Pelantikan ini menjadi salah satu agenda pengadaan ASN tahun 2026 dari jalur sekolah kedinasan.
Dari total 1.204 lulusan yang dilantik, ketiga penerima penghargaan mendapat perhatian publik karena latar belakang keluarga mereka yang beragam—dari buruh bangunan hingga petani. Hal ini kerap dijadikan indikator mobilitas sosial melalui jalur pendidikan tinggi kedinasan.